Psikolog Pertanyakan Klaim Indonesia Sebagai Negara Paling Bahagia

  • 26 Feb 2026 15:55 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Klaim Indonesia sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia, perlu dibaca secara lebih kritis. Psikolog RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Mufliha Fahmi menegaskan, indikator yang digunakan dalam pemeringkatan tersebut bukan semata-mata mengukur kebahagiaan atau happiness.

Melainkan konsep flourishing yang memiliki makna lebih luas dan berbeda secara substansial. ”Flourishing tidak sama dengan happiness, kebahagiaan hanya sebagian dari kebermaknaan hidup,” katanya di UMY, Kamis 26 Februari 2026. ”Flourishing mencakup aspek relasi sosial, makna hidup, tujuan, hingga kontribusi individu dalam masyarakat.”

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memang memiliki skor tinggi dalam dimensi nonmaterial, seperti makna hidup, relasi sosial, dan religiositas. Namun, pada indikator kepuasan finansial, kesehatan fisik, dan kesehatan mental, nilainya justru relatif rendah.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi kebahagiaan kolektif dan realitas kesejahteraan psikologis masyarakat. Mufliha mengaitkan temuan tersebut dengan dinamika sosial yang berkembang, termasuk meningkatnya ekspresi ketidakbahagiaan di media sosial, terutama di kalangan generasi muda dan kelas pekerja.

Menurutnya, fenomena tersebut bukan sekadar keluhan emosional. Melainkan bentuk kebutuhan akan validasi sosial dan ruang aman untuk mengekspresikan tekanan psikologis yang sedang dihadapi.

Ia juga menyoroti data kasus bunuh diri di Kabupaten Sleman yang hingga Februari 2026 telah mencapai empat hingga lima kasus. Jumlah lebih dari separuh total kasus yang sama sepanjang tahun 2025. ”Padahal ini baru bulan Februari, belum genap satu tahun. Artinya, ada persoalan kesejahteraan psikologis yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.

Meski mengkritisi dimensi struktural, Mufliha menegaskan bahwa kebahagiaan tidak sepenuhnya boleh digantungkan pada situasi politik atau kebijakan negara. Ia mengajak masyarakat untuk membangun ketahanan psikologis melalui penerimaan diri, pengelolaan emosi, serta perjuangan aktif dalam menghadapi tantangan hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....