Pemkot Yogyakarta Alokasikan Rp7,5 Miliar untuk Perkuat Talud

  • 25 Feb 2026 11:07 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berkomitmen serius dalam memitigasi risiko bencana longsor di sepanjang bantaran sungai dengan memperkuat infrastruktur talud. Untuk memperkuat infrastruktur talud, Pemkot Yogyakarta mengalokasikan anggaran sebesar Rp7,5 miliar sepanjang tahun 2026 guna memastikan keselamatan warga yang bermukim di dekat aliran sungai.

Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta Rahmawan Kurniadi mengatakan, alokasi anggaran secara terintegrasi untuk pembangunan baru, pemeliharaan rutin, serta penanganan insidentil di 3 sungai. Sedangkan untuk alokasi sekitar Rp2 miliar yang disiapkan khusus untuk penanganan darurat atau insidentil di titik-titik rawan yang terdampak cuaca ekstrem

"Penguatan talud dan pemeliharaan berkelanjutan ini harapannya risiko longsor tebing sungai dapat ditekan, sekaligus menjaga keselamatan pemukiman warga yang berada di bantaran sungai," katanya, Senin, 24 Februari 2026.

Kurniadi mengungkapkan, pembangunan talud baru tahun ini difokuskan di Sungai Winongo melalui dua paket pekerjaan, yakni di wilayah Bener dan Pakuncen, untuk wilayah Bener sebagian besar kawasan belum memiliki talud permanen sehingga pembangunan dilakukan dari awal, sementara di Pakuncen talud lama dari pasangan batu kali ditingkatkan menjadi struktur beton bertulang agar lebih kokoh dan tahan terhadap arus deras.

"Masih lumayan banyak yang batu kali. Bahkan ada yang belum bertalud. Sekarang kita tingkatkan strukturnya menjadi lebih kuat, dengan pondasi beton ditanam sekitar 1,5 sampai 2 meter di bawah dasar sungai, lalu dindingnya cor beton bertulang," ucapnya.

Selain pembangunan baru, Pemkot lanjut Kurniadi, juga melakukan penanganan insidentil di sejumlah titik rawan seperti Ngampilan, Baciro, dan Gambiran. Penanganan ini umumnya dipicu laporan kerusakan akibat hujan deras yang mengakibatkan struktur lama ambrol atau longsor.

“Kebanyakan yang rusak itu struktur lama, rata-rata masih batu kali. Kalau sudah lama dan terus tergerus arus, memang rawan,” ujarnya.

Sedangkan pada pemeliharaan rutin, juga dilakukan di tiga sungai besar yang melintasi Kota Yogyakarta, yakni Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajah Wong. Seperti saat ini, Kurniadi menyebut, tengah menindaklanjuti beberapa titik longsor akibat intensitas hujan tinggi.

“Untuk talud yang di Notoprajan yang melintasi Sungai Winongo sedang ditangani, jadi tim kita langsung turun untuk memperkuat struktur yang terdampak sebagai respons cepat terhadap kerusakan tebing. Sementara untuk talud yang berada di wilayah Baciro dan Prenggan masih dalam tahap perencanaan perbaikan,” katanya, menjelaskan.

Sementara talud longsor di wilayah Kricak yang melintasi Sungai Buntung, penanganan dilakukan melalui kolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Sinergi ini dilakukan mengingat kewenangan dan skala penanganan yang memerlukan dukungan lintas instansi.

Menurut Kurniadi, sebagian besar kerusakan terjadi pada struktur lama yang belum menggunakan sistem pondasi beton bertulang. Talud lama dari batu kali maupun bronjong lebih rentan terhadap perubahan debit air secara tiba-tiba.

“Kalau bronjong, ketika kawatnya sudah aus, kekuatannya hilang. Batu kali juga kalau tidak ada pondasi dan tulangan, lama-lama tergerus,” ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....