Mengulik Makna Imlek dan Barongsai dalam Tradisi Umat Konghucu
- 18 Feb 2026 15:40 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Indonesia bukan sekadar festival kemeriahan hiburan semata, melainkan sebuah refleksi spiritualitas dan sejarah panjang masyarakat Tionghoa. Dalam program "Batik Konghucu" yang disiarkan oleh Pro4 RRI Yogyakarta, WS Adjie Chandra menekankan bahwa Imlek bagi umat Konghucu adalah hari raya keagamaan yang berpusat pada peribadatan dan rasa syukur kepada Huang Tian atau Tuhan Yang Maha Esa, Rabu, 18 Februari 2026.
Ws Ajie Chandra mengatakan bahwa salah satu ikon yang tak terpisahkan dari perayaan ini adalah atraksi Barongsai dan Liong (naga). Berdasarkan legenda, Barongsai awalnya merupakan topeng berbentuk kodok raksasa yang dibuat oleh para petani di Tiongkok kuno untuk menakut-nakuti monster bernama "Nien".
”Monster ini diceritakan selalu muncul setahun sekali untuk merusak hasil panen padi dan sayuran milik petani menjelang musim semi. Keberhasilan mengusir monster tersebut kemudian dirayakan secara turun-temurun hingga berubah bentuk menjadi kesenian Barongsai yang kita kenal saat ini," ujar Ws Ajie Chandra.
Secara ritual, perpaduan Barongsai dan Liong mengandung filosofi keseimbangan alam. Barongsai melambangkan unsur Im atau Yin yang mewakili bumi, sementara Liong melambangkan unsur langit. Hal ini dimaksudkan agar terjalin keselarasan antara elemen bumi dan langit demi kenyamanan hidup manusia.
"Barongsai itu melambangkan unsur im atau unsur yin, unsur bumi. Sedangkan Liong melambangkan unsur langit. Maka kalau unsur bumi dan langit ini bisa harmonis, bisa selaras, hidup ini akan terasa indah dan nyaman," kata WS Adjie Chandra dalam siarannya
Di balik kemeriahan fisik, esensi utama Imlek terletak pada konsep perubahan batin yang disebut Kore Sin. Ajaran ini menuntut manusia untuk terus memperbarui semangat dan kualitas dirinya setiap hari. Imlek menjadi momentum penting untuk melakukan introspeksi diri atas segala kegagalan atau kesalahan di tahun sebelumnya.
Dalam tradisi Konghucu, umat melaksanakan sembahyang Keng Thi Kong atau sembahyang awal tahun sebagai bentuk permohonan berkah dan kekuatan baru. Sembahyang ini dilakukan seminggu setelah Imlek sebagai bentuk "curhat" atau komunikasi spiritual kepada Tuhan setelah menerima berkah selama setahun penuh.
"Tahun baru itu bukan asal pakai baju baru, bukan asal berkeliling naik mobil baru, tetapi bagi masyarakat Konghucu khususnya, bagaimana manusia itu punya semangat yang baru," ujar Adjie Chandra.
Adjie juga meluruskan bahwa di Indonesia, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional karena kedudukannya sebagai hari raya keagamaan, bukan sekadar tradisi etnis. Penanggalan Imlek sendiri secara resmi dihitung dari tahun kelahiran Nabi Konghucu pada 551 SM, sehingga tahun ini bertepatan dengan 2577 Kongzili. Melalui pemahaman sejarah dan ritual yang mendalam, Imlek diharapkan menjadi momen bagi masyarakat luas untuk menghargai harmoni antar sesama manusia serta alam semesta, sekaligus memperkuat iman dalam menjalani tahun yang baru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....