Menakar Kontribusi Lembaga Penyiaran dalam Menjaring Mahasiswa Baru
- 12 Feb 2026 14:46 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Persaingan perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menjaring mahasiswa baru kini memasuki babak baru yang penuh tantangan. Tidak lagi sekadar mengandalkan promosi konvensional, institusi pendidikan tinggi kini ditantang untuk membangun kredibilitas melalui kolaborasi strategis dengan lembaga penyiaran. Hal ini menjadi benang merah dalam program dialog "Kawruh" yang disiarkan oleh RRI Pro 4 Yogyakarta pada Kamis (12/2/2026) pagi. Fuad, S.H., M.H., M.Kn. (Komisioner KPID DIY Bidang Kelembagaan) dan Khairil Ikhsan, S.H., M.H. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram).
Fuad menyoroti transformasi besar yang terjadi dalam strategi rekrutmen kampus. Ia mengenang masa aksi door-to-door, penyebaran selebaran fotokopi, hingga pengiriman kalender ke pelosok daerah yang kini telah berganti total menjadi dominasi media sosial hingga hampir 100 persen dalam setiap kampanye pendidikan. Meski demikian, Fuad menyayangkan minimnya pemanfaatan lembaga penyiaran seperti radio dan televisi dalam skema rekrutmen saat ini. Menurutnya, media penyiaran memiliki keunggulan dalam proses kurasi serta verifikasi informasi yang lebih ketat agar promosi kampus tidak sekadar menjadi kebisingan digital.
"Hampir semua kampus menggunakan media sosial, tetapi hanya sedikit yang menggunakan lembaga penyiaran. Padahal, semua bisa kita bicarakan dan diskusikan untuk mencarikan solusi pendanaan agar beban di hilir tidak terus membludak," ujar Fuad.
Diskusi sempat menghangat saat seorang pendengar bernama Pak Wening dari Wonosari menyampaikan kekhawatirannya melalui pesan suara mengenai stigma "bisnis pendidikan" serta klasifikasi tajam antara kampus negeri dan swasta yang memicu persaingan tidak sehat. Menanggapi hal tersebut, Khairil Ikhsan menekankan bahwa meskipun pengelolaan kampus mulai menyerupai manajemen perusahaan, biaya yang dikeluarkan mahasiswa pada akhirnya dikonversi menjadi kualitas layanan dan fasilitas infrastruktur yang sebanding. Ia menilai situasi saat ini menuntut kampus untuk memberikan feedback yang nyata atas investasi pendidikan yang dikeluarkan oleh masyarakat.
"Biaya yang tinggi itu kan sebenarnya kembali lagi kepada pelayanan kepada mahasiswa, entah itu infrastruktur atau hal lain yang menunjang pembelajaran di kampus tersebut nantinya," kata Khairil.
Terkait efektivitas pencantuman akreditasi dalam promosi, Khairil menegaskan bahwa akreditasi tetap menjadi parameter paling rasional bagi calon mahasiswa sebagai jaminan keamanan masa depan. Akreditasi dianggap sebagai tolok ukur reputasi dan legitimasi ijazah di dunia kerja agar tidak merugikan mahasiswa di kemudian hari. Senada dengan hal itu, Fuad menambahkan bahwa promosi akreditasi di lembaga penyiaran akan terasa lebih valid dan elegan karena informasinya lebih tersaring dibandingkan media sosial yang seringkali tidak terkontrol.
Sebagai penutup, narasumber mengajak perguruan tinggi di Yogyakarta untuk kembali "pulang" menggandeng lembaga penyiaran sebagai mitra strategis dunia pendidikan. Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya bersifat transaksional melalui iklan semata, tetapi bersifat strategis melalui pembuatan forum-forum diskusi interaktif yang mampu memberikan tips dan trik memilih kampus bagi orang tua murid. Hal ini krusial untuk membangun citra positif serta menyampaikan informasi yang akurat, kredibel, dan berkeadilan bagi calon mahasiswa baru di Yogyakarta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....