Nyadran, Warga Bakungan Lestarikan Tradisi Menjelang Ramadan

  • 11 Feb 2026 07:44 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Tradisi Nyadran kembali digelar masyarakat Bakungan sebagai bentuk kirim doa dan pelestarian budaya Jawa secara turun-temurun yang sarat makna. Kegiatan ini rutin dilakukan warga bersama keluarga ahli waris yang dimakamkan di Makam Bendo Bakungan setiap tahun sekali.

Pelaksanaan Nyadran tahun ini berlangsung pada Minggu Legi, 8 Februari 2026 dalam penanggalan Jawa juga bertepatan pada tanggal 20 Ruwah. Biasanya tradisi ini memang dilaksanakan menjelang datangnya bulan Ramadan yang penuh makna spiritual dan ibadah panjang.

Tradisi Nyadran ini dilaksanakan di pelataran Makam Bendo Bakungan Dusun Kwagon, Sidorejo Godean Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta Indonesia. Sejak pagi hari warga dan keluarga ahli waris tampak berdatangan dan bunga untuk prosesi nyekar bersama keluarga besar masing-masing.

Warga mulai berdatangan mulai pukul 07.00 WIB sebelum kegiatan resmi dimulai oleh panitia penyelenggara secara tertib bersama-sama. Acara resmi dibuka pukul 08.00 WIB pagi dipandu oleh Gilang Kinantyo selaku pembawa acara dengan suasana khidmat tertib lancar harmonis.

Setelah pembukaan dilanjutkan sambutan dan laporan panitia oleh Ki Budi Sutowiyoso selaku perwakilan penyelenggara tradisi Nyadran tahunan setempat. Memasuki inti acara dilakukan umbul donga atau kirim doa bersama seluruh warga masyarakat Bakungan dan keluarga ahli waris.

Doa dipimpin oleh Wagimin selaku Rois Padukuhan Kwagon dengan bacaan tahlil dan Yasin yang dilantunkan khusyuk bersama-sama warga. Usai doa bersama kegiatan dilanjutkan tausiyah singkat oleh sesepuh setempat Asrori Siswanto yang memberi pesan religius penuh makna.

“Tradisi ini menjadi pengingat manusia akan kematian dan kewajiban menghormati leluhur keluarga besar Bakungan," ucap Ki Budi Sutowiyoso. 

Nyadran juga dapat dimaknai merupakan wujud sowan anak cucu kepada simbah atau para leluhur yang telah meninggal dunia. 

"Artinya tidak unsur sirik dan musyrik, ini  hanya budaya sopan santun anak yang sowan kepada orang tua yang telah tiada.” ujar Ki Budi Sutowiyoso.

Ditambahkan Ki Budi tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ruwah menjelang datangnya Ramadan.

“Peringatan ini diharapkan memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan warga Bakungan lintas generasi dalam kehidupan sosial budaya sehari-hari masyarakat," ujarnya.

Dalam taushiyah-nya Bapak Asrori Siswanto menjelaskan asal-usul tradisi membawa bunga saat ziarah makam menurut sejarah Islam dan tuntunan hadis. Penjelasan tersebut merujuk teladan Kanjeng Nabi Muhammad Saw berdasarkan riwayat hadis yang shahih dan dipahami ulama hingga kini.

Setelah rangkaian doa selesai warga dipersilakan masuk area makam melakukan prosesi nyekar secara bergantian tertib penuh hormat khusyuk. Kegiatan kemudian dilanjutkan makan bersama nasi gurih dan ingkung sebagai simbol kebersamaan serta rasa syukur warga Bakungan bersama.

Tradisi Nyadran menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga serta keluarga ahli waris lintas generasi di lingkungan Masyarakat dan menjaga tradisi yang ada. Nilai gotong royong tampak dari partisipasi aktif warga dalam seluruh rangkaian acara sejak pagi hingga kegiatan berakhir siang.

Pelestarian tradisi ini diharapkan terus terjaga sebagai warisan budaya dan spiritual masyarakat Jawa khususnya warga Bakungan Kwagon RT01/ RW01 Sidorejo Godean Sleman. Nyadran membuktikan kearifan lokal tetap hidup berdampingan dengan nilai religius masyarakat modern di tengah perubahan zaman yang dinamis. (Gilang Kinantyo Rahmat)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....