Kerajinan Bambu Dlingo, Kreativitas Kalurahan Menembus Mancanegara

  • 31 Jan 2026 20:09 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Bagi masyarakat Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, bambu bukan sekadar tanaman liar, melainkan sumber kehidupan yang dimanfaatkan secara turun-temurun. Bermula dari pembuatan peralatan sederhana seperti tampah, besek, dan pagar, Sentra Kerajinan Bambu Dlingo tumbuh dari pemenuhan kebutuhan lokal menjadi pusat kerajinan bernilai ekonomi tinggi.

Selama puluhan tahun, keahlian menganyam bambu diwariskan lintas generasi dan kini berkembang menghasilkan beragam produk kreatif yang dipasarkan hingga tingkat nasional dan mancanegara. Sebagai salah satu sentra kerajinan bambu unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Sentra Kerajinan Bambu Dlingo pun mendapat dukungan Dana Keistimewaan (Danais) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY.

Dukungan tersebut berupa pelatihan keterampilan serta penguatan kerja komunitas. Hal ini guna mendorong pemberdayaan masyarakat kalurahan sekaligus membangun ekosistem ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.

Tidak hanya dikerjakan oleh laki-laki, perempuan, remaja, bahkan lansia turut ambil bagian dalam proses produksi, menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan. Setiap produk yang dihasilkan tak hanya memerlukan keterampilan, tetapi juga ketelitian dan kesabaran yang terus harus diolah.

Slamet Riyanto, salah satu perajin bambu dari Dusun Karangasem, Kalurahan Muntuk, mengungkapkan bahwa wilayah tempat tinggalnya merupakan lokasi wisata sekaligus sentra kerajinan anyaman bambu yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dahulu. Bahkan, hampir seluruh penduduk di daerah tersebut memiliki keterampilan menganyam dari bahan baku bambu.

“Berdirinya sentra kerajinan bambu di Dusun Karangasem, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo di sini itu sejak nenek moyang dulu. Turut temurun. Kalau dulu cuma ada tiga produk kerajinan. Setelah itu, generasi penerusnya termasuk saya mengembangkan beberapa produk baru. Contohnya ada tudung saji, tempat tisu, ada rantang, itu termasuk produk-produk baru,” ucap Slamet beberapa waktu lalu.

Slamet sendiri merupakan perajin bambu yang meneruskan usaha orangtuanya, Adji Handicraft, sejak tahun 2000. Ia adalah generasi ketiga yang kini mampu mengeskpor produk kerajinan bambu yang dibuat hingga kancah internasional. Produk yang dihasilkan oleh Adji Handicraft bahkan sudah mencapai puluhan, setidaknya ada sekitar 50 jenis produk.

Selain tudung saji, ada nampan bambu, tempat dimsum, tambir segitiga, rantang kotak, hampers buah, kap lampu, berbagai jenis keranjang, dan lain sebagainya.

“Untuk pemasaran, produk kami dipasarkan secara lokal di Yogyakarta, termasuk Pasar Beringharjo, serta ke sejumlah daerah seperti Surabaya, Bali, Jakarta, Semarang, dan Malang. Sementara untuk ekspor, produk anyaman bambu Dlingo telah menjangkau pasar Malaysia, Dubai, dan Turki. Harapan kami, Sentra Kerajinan Bambu Dlingo semakin dikenal luas dan mampu menembus lebih banyak negara," kata Slamet.

Bagi Slamet dan para perajin bambu lainnya, semakin banyaknya peminat produk kerajinan bambu dari Dlingo justru menambah motivasi sentra ini untuk terus menjaga kualitas dan kepuasan para konsumen.

“Saya sebagai perajin bambu, yang penting, pertama, kami bahan baku itu harus bagus. Kedua, kita pakai treatment. Ketiga, dari perajin itu selalu saya awasi terus dalam mengerjakan. Terus juga finishing-nya. Finishing enggak cuman asal-asalan. Finishing yang bagus,” ujar Slamet.

Slamet pun memaparkan, untuk membuat kerajinan bambu yang berkualitas, proses produksi dimulai dengan pemilihan bahan baku yang terbaik. Mencari atau memilih bambu yang cocok, dengan usia siap panen untuk memudahkan proses produksi, tidak terlalu tua dan tak terlalu muda.

Biasanya Slamet menggunakan jenis bambu apus yang ada di sekitar Bantul, Kulon Progo, atau Gunungkidul. Bambu yang terpilih kemudian dipotong, dibersihkan, lalu dikeringkan. Proses pengeringan biasanya memakan waktu satu sampai dua hari.

Kemudian, bambu diirat tipis atau sesuai kebutuhan, lalu dilakukan pembuatan kerangka dan diberi warna tertentu bila dibutuhkan. Setelah itu, dianyam sesuai pola dan kemudian dilakukan proses perakitan.

Proses paling penting adalah proses finishing dengan teknik pengasapan. Bertujuan menghilangkan serat dan memperhalus hasil kerajinan. Setelah itu baru dilakukan proses pengemasan dan pengiriman.

Untuk pengiriman jarak jauh, biasanya Slamet melakukan treatment tertentu, yaitu melapisi produk dengan anti-jamur dan anti-bubuk. Adanya Sentra Kerajinan Bambu Dlingo, berdampak positif pada perkembangan ekonomi, khususnya masyarakat sekitar.

Dari bambu yang tumbuh di lereng-lereng perbukitan, hingga sampai ke ruang-ruang rumah konsumen, produk kerajinan bambu Dlingo membawa cerita tentang alam, kerja keras, dan kebanggaan lokal. Sentra Kerajinan Bambu Dlingo pun menjadi wujud nyata bahwa desa bisa mendunia tanpa harus kehilangan akar budayanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....