Petani Milenial Wukirsari Sukses Kembangkan Bawang Merah
- 31 Jan 2026 19:14 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul – Berbekal Dana Keistimewaan DIY dan semangat gotong royong segenap masyarakat Kalurahan Wukirsari, menyulap Tanah Kas Desa (TKD) seluas kurang lebih 5.000 m2 menjadi satu kawasan Lumbung Mataraman. Mencakup pertanian, peternakan, dan perikanan, lumbung ini telah diresmikan pada Desember 2025 lalu.
Menariknya, pengelolaan kawasan lumbung mataraman ini juga sudah kekinian dengan memanfaatkan teknologi digital untuk membantu proses pertanian menjadi lebih efektif dan efisien.
Adalah Azfriza Jaty Prabowo, sosok petani milenial yang bertanggungjawab atas budidaya bawang merah di Lumbung Mataraman Wukirsari. Ketertarikannya pada budidaya bawang merah telah berkembang sejak tahun 2015. Namun, ia baru dapat fokus usai lulus kuliah pada tahun 2021.
“Dulunya itu cuma melihat kelompok tetangga-tetangga pada panen. Kan senang kan panen. Terus ikut-ikutan biar sama-sama panen. Terus belajar, cuma belajarnya sedikit-sedikit karena masih kuliah. Sehabis kuliah, lulus 2021, baru memang benar-benar fokus mencari cuannya real dari bawang merah sampai sekarang,” kata Friza.
Friza mengaku ketertarikannya ini pun lantaran bawang merah termasuk bahan pangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpeluang bagus. “Dulu saya lihat banyak yang bilang pertanian kan dari sisi ekonominya tidak bisa membantu. Padahal kalau cabai dan bawang merah bisa membantu. Malah di atas rata-rata sebenarnya. Tetapi banyak yang menganggap sebelah mata,” ujar Friza.
Friza menjelaskan, di lahan Lumbung Mataraman Wukirsari yang ditanami bawang merah ini, dalam sekali panen jumlah yang diperoleh dari hasil bibitan 3 kuintal bawang merah bisa mencapai 3 ton dengan harga per kilonya, yakni Rp30.000,00.
“Sementara untuk saat ini, untuk masalah laba untuk keuntungan itu menjanjikan. Alhamdulillah untuk cukup, lebih sedikit. Karena bawang merah itu kan komoditas yang nilai ekonominya tinggi, jadi memang saya minat di budidaya bawang merah karena harga jualnya tinggi hasilnya juga alhamdulillah besar,” kata Friza.
Ide penggunaan teknologi untuk menyiram bawang merah itu sendiri datang dari kelompok teman-teman Friza yang telah lebih dulu ahli dan berpengalaman dalam budidaya bawang merah. Dengan memanfaatkan teknologi digital, sistem irigasi yang dilakukan menjadi lebih efektif dan efisien serta penyerapan air dinilai lebih maksimal di tanah.
“Penyiraman ini tergantung musim. Karena ini musim penghujan biasanya untuk masalah penyiraman cuma dua hari sekali. Kalau musim kemarau itu setiap hari, setiap pagi sebelum matahari muncul lebih baiknya,” kata Friza.
Meski demikian, Friza menyatakan bahwa penggunaan teknologi tersebut membantu untuk penyiraman saja. Untuk pemupukan bawang merah masih manual menggunakan semprotan biasa.
“Rencana pengembangan bawang merah, nanti kemungkinannya semisal ada dana lagi mau mengembangkan green house melon. Karena kan sekarang baru memang masanya untuk green house melon premium. Karena modalnya terlalu besar, kita cari dulu,” ujar Friza.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....