Lestarikan Adat Dewi Sri di Kendal, Ki Saparjan: Penting bagi Generasi Muda
- 02 Jun 2026 07:40 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Aroma harum kemenyan bercampur segarnya hamparan padi menyelimuti kompleks Karathon Amarta Bhumi, Kampung Jawa Sekatul, Margosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Pada Sabtu 30 Mei 2026, ratusan masyarakat dan kerabat keraton berkumpul dalam kekhusyukan ritual adat "Dewi Sri" sebuah upacara syukuran atas melimpahnya hasil panen padi sekaligus simbol kokohnya ketahanan pangan lokal.
Prosesi ritual berlangsung sangat sakral. Salah satu puncak acara yang menyedot perhatian adalah arak-arakan Padi Manten (sepasang ikat padi yang disimbolkan sebagai pengantin). Padi Manten ini diarak dengan penuh penghormatan sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam lumbung adat, sebagai bentuk rasa syukur mendalam kepada Sang Pencipta atas berkah bumi yang melimpah. Bersamaan dengan itu, beberapa tarian sakral juga dipentaskan, menambah magisnya atmosfer malam syukuran tersebut.
Gelaran ini dihadiri langsung oleh tokoh bangsawan Surakarta, KPP. Hernowo, serta diikuti oleh seluruh keluarga besar dan Baraya Karathon Amarta Bhumi. Kehadiran para tokoh ini menegaskan bahwa komitmen menjaga marwah budaya Jawa tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Harapan besar membumbung dari diadakannya ritual ini. Selain sebagai bentuk syukur, acara tahunan ini diharapkan menjadi pelecut semangat agar para petani di masa depan semakin makmur dan sejahtera, dengan tetap memegang teguh adat budaya leluhur.
Budayawan asal Yogyakarta, Ki Saparjan, yang turut hadir dalam acara tersebut memberikan catatannya yang mendalam. Ia mengapresiasi tinggi konsistensi Karathon Amarta Bhumi dan masyarakat sekitar yang masih menjaga tradisi agraris ini. Menurutnya, ritual seperti ini bukan sekadar urusan mistis atau masa lalu, melainkan medium edukasi yang sangat penting.
"Adat tradisi Dewi Sri ini alhamdulillah masih terus dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat kita. Mengapa ini penting? Tentunya untuk mengenalkan dan mewariskan kearifan lokal ini kepada para generasi muda. Mereka harus tahu bahwa bangsa kita memiliki akar budaya yang sangat kuat dalam menghargai alam dan menjaga ketahanan pangan,"ujar Ki Saparjan.
Melalui sinergi antara pelestarian adat, doa syukur, dan edukasi budaya bagi kaum muda, Ritual Dewi Sri di Sekatul Kendal ini sukses membuktikan bahwa warisan leluhur adalah fondasi kuat untuk melangkah ke masa depan yang lebih makmur dan berdaulat secara pangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....