Film Wisata Plastik Ceritakan Pentingnya Merawat Bumi

  • 26 Jan 2026 17:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul - Berangkat dari keprihatinan mengenai sampah plastik, komunitas peduli lingkungan Deruk Cemung memproduksi film dokumenter berjudul Wisata Plastik (Plastic Tourism) sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah plastik, khususnya di kawasan pariwisata Gunungkidul.

Inisiator Komunitas Deruk Cemung, Ribut Subronto mengatakan, film tersebut lahir dari keprihatinan atas meningkatnya sampah plastik seiring dengan perkembangan sektor pariwisata di Gunungkidul.

“Kami melihat Gunungkidul terus dikejar menjadi primadona wisata, tetapi persoalan sampah plastik belum tertangani dengan baik. Dari situlah film ini kami buat,” ujar Ribut saat diwawancarai, Senin 26 Januari 2026.

Film Wisata Plastik sempat diikutkan dalam Festival Film Dokumenter Yogyakarta, namun tidak lolos nominasi. Ribut menilai muatan film yang bersifat satir dan kritis terhadap pengelolaan sampah menjadi salah satu penyebabnya.

“Film ini memang cukup satir dan kritis terhadap pemerintah. Mungkin itu yang membuat tidak lolos di sini,” katanya.

Meski demikian, film yang dibuat bersama Jiwa Laut dan Ira Setiawati ini justru mendapatkan apresiasi di luar negeri setelah dikirimkan ke sejumlah festival dan forum pemutaran internasional. Menurut Ribut, respons dari komunitas internasional cukup positif dan menganggap film tersebut inspiratif.

“Di beberapa negara seperti Amerika, Jepang, dan lain sebagainya justru film ini diterima dengan baik dan mendapat perhatian. Tapi tujuan kami bukan untuk terkenal atau menang festival, melainkan menyampaikan pesan dari film itu sendiri,” ujarnya.

Pasca pemutaran internasional, Komunitas Deruk Cemung memilih memfokuskan distribusi film ke kegiatan edukasi, terutama bagi anak-anak sekolah dasar. Edukasi dilakukan melalui pemutaran film yang dipadukan dengan praktik pengelolaan sampah.

“Kami justru menyasar anak-anak SD karena langkah mereka masih panjang. Edukasi kami kemas lewat film supaya tidak membosankan,” kata Ribut.

Sejumlah sekolah di Gunungkidul telah menjadi lokasi pemutaran film, di antaranya SD Pucanganom II di Kapanewon Rongkop dan SD Kandri di Kapanewon Girisubo. Dalam kegiatan tersebut, komunitas juga memperkenalkan wayang uwuh, ekobrik, dan media edukasi lain berbahan sampah plastik.

Ribut menilai peran pemerintah dalam edukasi pengelolaan sampah plastik masih belum optimal. Ia menyebut masih kuatnya budaya membuang sampah sembarangan, termasuk ke lueng atau lubang alami karst.

“Kesadaran masyarakat soal sampah plastik itu belum terbentuk. Ini sebenarnya PR besar pemerintah karena mereka punya kewenangan dan ketegasan yang bisa dipatuhi masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, komunitas memilih jalur edukasi kultural dengan pendekatan seni, film, musik, dan pertunjukan. Kegiatan ini dijalankan secara swadaya dengan keterbatasan anggaran.

“Kami bergerak secara sukarela. Operasional kami tutupi dari kegiatan niaga Lumbung Kawruh, termasuk untuk bensin dan kebutuhan anggota,” kata Ribut.

Selain Deruk Cemung, Ribut juga menginisiasi komunitas Nandur Banyu dan Lumbung Kawruh. Ketiga komunitas tersebut dikenal melalui berbagai kegiatan seni dan lingkungan, termasuk partisipasi dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta 2025 serta kerja sama dengan PDAM Tirta Handayani.

“Kami hanya ingin pesan soal pengelolaan sampah ini sampai. Kalau lewat film bisa diterima, ya film. Kalau lewat pertunjukan, ya kami pakai pertunjukan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....