Mengintip Potensi Sendangtirto Sleman, dari Sentra Nila hingga Rencana Wisata
- 31 Mei 2026 22:08 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kawasan Sendangtirto, Berbah, Kabupaten Sleman, bersiap mendobrak potensi lokalnya. Tidak sekadar menjadi pusat budidaya perikanan, wilayah ini dibidik untuk bertransformasi menjadi destinasi wisata berbasis air yang terintegrasi.
Langkah ini mendapat dorongan kuat dari Komisi B DPRD DIY saat melakukan peninjauan lapangan ke Dharma Nila Farm, Jumat lalu, 22 Mei 2026. Dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi B, Dr. Danang Wahyu Broto, S.E., M.Si., kunjungan ini turut menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY untuk memetakan arah pengembangan kawasan.
Danang Wahyu Broto bersama rombongan melihat langsung pengembangan budidaya ikan nila air tawar yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Apresiasi juga diberikan atas pengembangan budidaya ikan air tawar yang dilakukan Dharma Nila Farm.
Danang Wahyu Broto menilaiz kawasan Sendangtirto memiliki potensi yang langka di DIY karena memiliki sumber mata air dan aliran sungai yang melimpah.
“Kami cukup bangga dan senang ternyata potensi budidaya ikan air tawar salah satunya ada di Sendangtirto. Bahkan bisa dibilang langka karena di DIY daerah ini menjadi salah satu wilayah yang memiliki sumber mata air dan sungai yang cukup banyak,” katanya.
Selain sektor perikanan, Komisi B DPRD DIY juga melihat potensi pengembangan wisata berbasis air di kawasan tersebut. Menurut Danang, wisata kolam, wisata air, hingga snorkeling dapat dikembangkan sebagai sektor pendukung yang terintegrasi dengan budidaya ikan.
“Kami berharap arahnya juga untuk pariwisata dan pemberdayaan masyarakat,” ucapnya.
Ketua Dharma Nila Farm, Sudarmono, menjelaskan, usaha budidaya yang dijalankannya dimulai sejak tahun 2004. Ia juga merasa bangga dan terima kasih, atas perhatian yang diberikan Komisi B DPRD DIY terhadap pengembangan budidaya perikanan di wilayahnya.
Sudarmono mengungkapkan, selain membudidayakan ikan air tawar, sudah cukup lama aktif memberikan pelatihan budidaya ikan kepada masyarakat. Namun, ia menilai pelatihan singkat belum cukup untuk menghasilkan pembudidaya yang berhasil karena dibutuhkan pendampingan jangka panjang dan proses belajar yang berkelanjutan.
“Untuk masalah pelatihan sudah melatih dari dulu, jadi tidak henti-henti untuk memberikan. Karena memang untuk bisa itu butuh waktu lama, ilmunya terlalu banyak,” ujarnya.
Sudarmono juga menekankan, pentingnya menjaga kualitas budidaya, terutama pada aspek indukan ikan yang menjadi faktor utama dalam produksi benih. Menurutnya, kualitas indukan akan terus menurun apabila tidak dijaga secara serius.
“Indukan ini penting. Indukan ini menjadi salah satu sarana produksi dalam budidaya untuk bibit. Bibit itu termasuk syarat utama untuk produksi,” katanya, menegaskan.
Sudarmono juga menilai, bahwa seluruh jenis ikan memiliki potensi ekonomi apabila ditekuni dengan serius. Ia pun berharap adanya prioritas program pendukung dari pemerintah agar kelompok budidaya yang telah berjalan dapat terus bertahan dan berkembang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R. Hery Sulistio Hermawan menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan Dharma Nila Farm. Ia berharap sinergi antara pemerintah dan kelompok budidaya dapat terus diperkuat melalui berbagai program pembinaan dan pengembangan.
“Harapannya bisa bersinergi, dan ada program-program nasional yang bisa diadopsi. Paling tidak bisa mendapatkan faedahnya,” ujarnya, mengungkapkan.
Hery menjelaskan, bahwa pihak dinas saat ini tengah melakukan pengembangan varietas ikan Nilasa (Nila Satria) yang sudah memasuki generasi ketiga (F3). Pengembangan tersebut dilakukan untuk menciptakan indukan ikan nila unggul yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu serta mendukung penyediaan indukan di wilayah DIY.
Selain meninjau budidaya ikan, kunjungan tersebut juga menyoroti potensi sumber daya air dan embung di kawasan Sendangtirto yang dinilai dapat dioptimalkan untuk mendukung budidaya perikanan, irigasi pertanian, hingga pengembangan wisata masyarakat. Berdasarkan pengukuran bersama Universitas Gadjah Mada, debit air di beberapa titik disebut mencapai sekitar 23 liter per detik.
Komisi B berharap pengembangan sektor perikanan di Sendangtirto dapat menjadi salah satu upaya pemberdayaan masyarakat dan pengurangan kemiskinan di wilayah tersebut. Selain itu, Dharma Nila Farm diharapkan mampu menjadi contoh bagi kelompok budidaya lainnya sekaligus mendukung peningkatan konsumsi ikan masyarakat DIY yang masih relatif rendah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....