Masjid Kagungan Dalem Pajimatan, Persinggahan Akhir Raja-Raja Jawa
- 05 Nov 2025 12:03 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Bantul: Prosesi Pemakaman Sinuwun Susuhunan Pakoe Boewono XIII dilangsungkan pada Rabu, (5/11/2025) siang di Astana Pajimatan Imogiri. Jenazah Sunan diberangkatkan dari Karaton Surakarta pukul 9 pagi waktu setempat.
Nantinya sesampainya di Astana Pajimatan akan dilangsungkan upacara serah terima dari Keraton. selanjutnya peti jenazah Sunan akan diangkat ke Masjid Kagungan Dalem Pajimatan Imogiri untuk dishalatkan. Masjid ibi menjadi persinggahan akhir para Raja Mataram sebelum dikebumikan di Astana Pajimatan Imogiri.
Masjid ini didirikan tahun 1632 1650 M oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma sebagai pemrakarsa pembangunan Makam Para Raja. Oleh karenanya Masjid ini dikenal pula sebagai Masjid Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Pak Ambary dan Pak Iskandar selaku Abdi Dalem Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, mereka merawat masjid tersebut sebagai utusan dari para pewaris Mataram Islam. (Foto: RRI/Amar)
Dituturkan oleh Pak Ambary selaku Abdi Dalem Masjid Pajimatan utusan Karaton Surakarta, setidaknya sudah lebih dari 20 Raja dishalatlan di masjid ini. Para Raja tersebut berasal dari Karaton Mataram Islam, Kasultanan Yogyakarta, dan Kasunanan Surakarta.
“Sudah 24 raja. Setiap mau di kebumikan harus disalatkan di Masjid Jami, "ujarnya.
Menurut Ambary, arsitektur masjid ini masih asli seperti sedia kala. Ia menjelaskan beberapa bagian terutama saka guru dan rangka kayunya masih asli sejak era Sultan Agung, hanya terdapat beberapa renovasi terutama penambahan keramik pada lantai.
Masjid ini menjadi salah satu tujuan para peziarah dari berbagai daerah sebagai sarana ibadah dan ngalap berkah pada para leluhur Mataram tersebut. Sehingga terdapat berbagai kisah menarik bernafas spiritual yang didapat Abdi Dalem dari berbagai jamaah yang singgah.
“Fungsi masjid kan itu untuk tempat ibadah terutama. Banyak pengunjung atau tamu-tamu yang kepengin tirakat di masjid, iktikaf di masjid," kata Ambary.
Pengalaman dari lelaku tersebut menurut Ambary merupakan hak pribadi masing-masing. Namun, ia menuturkan memang banyak peziarah yang menilai masjid ini masih menyimpan nilai kemurnian budaya dan agama.
“Biasanya kan ada tamu yang bercerita gini gini gini gini. Pak, saya tadi Kok. Salat sendiri toh? Iya. Loh. Rumangsa di Apa itu? Ah, ada yang ikut jemaah gitu. Maksudnya gitu. Itu sering tamu yang berkata gitu," ucapnya menambahkan.
Selain bernilai spiritual, masjid ini adalah simbol budaya yang terus dijaga oleh Wangsa Mataram Islam. Di Masjid ini Ambary berjaga secara bergantian selama 24 jam. Terdapat 6 Abdi Dalem Kasultanan Yogyakarta dan 4 Abdi Dalem Surakarta mengurusi keperluan masjid tersebut. (wulan/amar)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....