Suasana Ramadan di Perancis

  • 14 Mar 2026 06:26 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menjalani ibadah puasa di negeri orang selalu menghadirkan cerita unik, tak terkecuali bagi Nisa Azizah. Mahasiswa Master di EM Lyon Business School ini membagikan pengalamannya merasakan atmosfer Ramadan untuk pertama kalinya di Lyon, kota terbesar ketiga di Prancis.

Meskipun Prancis dikenal sebagai negara sekuler, Islam merupakan agama terbesar kedua di sana. Di Kota Lyon sendiri, sekitar 10% penduduknya merupakan Muslim, yang didominasi oleh komunitas asal Afrika Utara seperti Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Hal ini memberikan sentuhan budaya yang khas pada perayaan Ramadan di kota tersebut.

Salah satu titik sentral bagi umat Muslim adalah Grand Mosquée de Lyon (Masjid Agung Lyon). Masjid yang diresmikan pada tahun 1994 ini merupakan masjid terbesar keenam di Prancis. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini menjadi rujukan utama bagi komunitas Muslim karena memiliki lembaga sertifikasi halal yang sangat tepercaya untuk menjamin keamanan produk makanan bagi warga lokal.

Suasana Ramadan semakin terasa dengan hadirnya Marché du Ramadan atau Pasar Ramadan. Menjelang waktu berbuka, kawasan ini bertransformasi menjadi pusat kuliner yang ramai. Pengunjung dapat menemukan berbagai hidangan khas Timur Tengah dan Afrika Utara, mulai dari kurma kualitas premium, roti khas, kue-kue manis, hingga beragam masakan tradisional yang menggugah selera.

Bagi Nisa, Ramadan di Prancis juga membawa tantangan tersendiri sebagai mahasiswa. Jadwal perkuliahan dan ujian tetap berjalan normal tanpa kompensasi waktu ibadah.

"Saya sendiri pernah mengalami harus berbuka puasa di tengah-tengah jam ujian karena waktu Maghrib tiba saat ujian masih berlangsung," ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia dan rekan mahasiswa lainnya biasanya selalu menyiapkan air mineral dan kurma agar bisa segera membatalkan puasa secara praktis saat waktu berbuka tiba.

Rasa rindu pada tanah air terobati melalui komunitas diaspora Indonesia, salah satunya lewat kelompok pengajian Al-Hijrah Lyon. Komunitas ini rutin menyelenggarakan kegiatan pengajian yang disertai dengan acara buka puasa bersama.

Momen ini menjadi ajang silaturahmi yang sangat dinanti, di mana para mahasiswa dan warga Indonesia di Lyon dapat berkumpul dan menyantap makanan khas Indonesia. "Suasananya terasa sangat hangat, kita bisa merasakan suasana Ramadan seperti di tanah air meskipun jauh dari keluarga," katanya.

Melalui pengalaman ini, Ramadan di Lyon membuktikan bahwa meski berada di tengah masyarakat sekuler dan jadwal akademik yang padat, semangat ibadah dan kebersamaan tetap dapat tumbuh subur melalui solidaritas komunitas.

(Kontributor Muslimat NU: Nisa Aziza, Mahasiswi Emlyon Business School)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....