Tradisi Ngabuburit, Hasto Ajak Masyarakat Berbelanja di Pasar Ramadan

  • 23 Feb 2026 12:41 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Bulan suci Ramadan menjadi momen bagi pelaku UMKM untuk mencoba peruntungan dengan menjajakan aneka kuliner untuk berbuka puasa. Tradisi Ngabuburit di Yogyakarta ini kerap dijadikan masyarakat untuk menjalin silaturahmi sekaligus menggeliatkan perekonomian serta meningkatkan kepedulian sosial.

Wali kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan, berbelanja di saat bulan Ramadan ini tidak hanya sekadar menggerakkan ekonomi warga. Namun juga menjadi semangat dan dukungan kepada pelaku UMKM.

Hasto mengajak masyarakat, untuk membeli dagangan para pelaku UMKM, meskipun tidak sepenuhnya membutuhkan, sebagai bentuk dukungan dan kepedulian. Bahkan, menurutnya, jika tidak menyukai suatu makanan, tetap bisa dibeli untuk kemudian dibagikan kepada orang lain.

“Kalau mengaku beriman dan bertakwa, mestinya punya kepedulian sosial yang lebih baik. Seapik-apike wong itu kalau bermanfaat bagi orang lain. Inilah mengamalkan Rahmatan Lil ‘Alamin, kita harus memberi manfaat,” katanya, saat membuka secara resmi Bazar Ramadhan Kampung Glagah yang digelar di depan Masjid Nurul Huda, Kelurahan Warungboto, Sabtu, 21 Februari 2026.

Hasto mengapresiasi atas terselenggaranya pasar Ramadan yang dinilai mampu menggerakkan ekonomi warga sekitar. Ia berharap pasar Ramadan ini tidak hanya menjadi ajang transaksi ekonomi, tetapi juga wahana mempererat gotong royong antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga.

“Adanya pasar Ramadan di depan Masjid Nurul Huda ini menurut saya bagus karena menggeliatkan ekonomi masyarakat. Semangatnya harus semangat memberi. Kalau bisa di bulan Ramadan ini belanjanya justru lebih banyak, karena spiritnya memberi kepada yang lemah,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk membeli dagangan para pelaku UMKM, meskipun tidak sepenuhnya membutuhkan, sebagai bentuk dukungan dan kepedulian. Bahkan, menurutnya, jika tidak menyukai suatu makanan, tetap bisa dibeli untuk kemudian dibagikan kepada orang lain.

“Kalau mengaku beriman dan bertakwa, mestinya punya kepedulian sosial yang lebih baik. Seapik-apike wong itu kalau bermanfaat bagi orang lain. Inilah mengamalkan Rahmatan Lil ‘Alamin, kita harus memberi manfaat,” tegasnya.

Ketua Panitia Bazar Ramadhan Kampung Glagah, Rizqi Amalina, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini merupakan yang kedua kalinya, dengan sejumlah perbedaan dibanding tahun sebelumnya. Terutama titik lokasi yang awalnya di jalan kampung di Glagahsari. Tahun ini lokasinya pindah ke jalan besar, tepatnya di depan Masjid Nurul Huda.

Dari sisi jumlah peserta, terjadi peningkatan dari tahun lalu hanya diikuti sekitar 30 stan, tahun ini bertambah menjadi 40 stan. Mayoritas pelaku usaha merupakan warga Warungboto sendiri, sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi lokal.

"Sengaja kita pindahkan supaya lebih ramai dan lebih eye-catching. Sebagian besar dari Warungboto. Memang niatnya sebagai area silaturahmi antarwarga, jadi selain belanja, warga juga bisa saling bertemu dan mempererat hubungan,” katanya.

Jenis dagangan yang ditawarkan juga beragam, mulai dari kuliner tradisional seperti pecel hingga makanan kekinian dan hidangan internasional, Pasar Ramadan ini digelar selama dua minggu. Selain aktivitas jual beli setiap sore, panitia juga menyelenggarakan berbagai lomba setiap akhir pekan, seperti lomba tahfiz untuk anak-anak, lomba kaligrafi, dan pildacil.

Menurut Rizqi, durasi dua minggu dipilih dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar yang banyak dihuni mahasiswa serta pelaku UMKM yang mulai fokus menerima pesanan menjelang Lebaran. Dengan konsep yang lebih terbuka dan partisipatif, Bazar Ramadhan Kampung Glagah diharapkan mampu menjadi ruang ekonomi sekaligus ruang sosial yang memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....