Keresahan Abu Kahfi Awali Perjalanan Ponpes Tuli Darul Ashom di Sleman
- 23 Feb 2026 10:01 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Di tengah hiruk pikuk ramainya Kota Pelajar saat Ramadan, ada sebuah pondok pesantren di Jalan Kragilan, Kalurahan Sidomoyo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman yang beribadah di dalam kesunyian. Adalah Pondok Pesantren Darul Ashom, sebuah pesantren yang menerima ratusan santri tuli. Santri beribadah salat dan membaca Alquran dengan menggunakan bahasa isyarat. Kesunyian tak menghilangkan makna dan kesakralan para santri dalam beribadah.
Pesantren ini didirikan oleh Abu Kahfi pertama kali di Srandakan Bantul pada 2019. Lalu, satu tahun kemudian pindah ke Kayen, Condongcatur dan terakhir Pesantren Darul Ashom menempati sebuah lahan di Kalurahan Sidomoyo Godean. Jauh sebelum itu, Abu menyebut perjalanan bersama anak-anak tuli sudah dia jalani sejak 2009 di Bandung. Saat itu, Abu mengaku merasa resah dan khawatir dengan aspek kehidupan beragama pada anak-anak tuli.
“Mereka mengenal agama dengan hanya dengan visual. (Misalnya) masjid seperti itu, tapi tidak dengan dengan perasaan, tidak sampai agama kepada mereka. Mereka mengenal Allah dan Muhammad Rasulullah itu siapa, tidak tahu. Dari situlah saya mulai terpanggil,” kata Abu saat diwawancara baru-baru ini.
Abu Kahfi merasa khawatir jika anak tuli tak diberi dasar pelajaran agama sedini mungkin. Untuk itu, dia berupaya untuk mendirikan pesantren agar anak tuli memiliki semangat yang sama dengan anak kebanyakan dalam mempelajari agama. Abu mengaku sempat kehilangan harapan lantaran belum banyak ustadz yang memiliki pandangan dan perhatian yang sama seperti Abu kepada anak tuli.
Pada 2009 itu, Abu mulai membetuk halaqah (majelis ilmu) skala kecil dari rumah ke rumah. Dari situ Abu tak hanya mengenalkan agama Islam, tapi dia juga turut mempelajari bahasa isyarat dari anak-anak tuli. Lambat laun namanya mulai dikenal. Keterampilan dalam menerapkan bahasa isyarat pun mulai meningkat. Sepuluh tahun berselang, Abu pindah ke Yogyakarta dan terus mengembangkan pesantren hingga hari ini. Di awal berdirinya Pesantren Darul Ashom, Abu menerima dua santri dari Yogyakarta dan Rembang. Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan, Abu telah menerima 13 santri dari berbagai daerah.
“Di Condongcatur diawali 35 santri sampai 100, kemarin menjelang pindah ada 170-an ya. Sekarang ada 180-an santri yang ada dari berbagai kelompok di Indonesia,” ujar Abu.
Abu menyebut, banyak orang tua yang menitipkan anaknya usai Pesantren Darul Ashom berdiri. Abu juga sering menerima ucapan terima kasih dari para orang tua. Orang tua merasa bersyukur anak tulinya bisa beribadah dengan baik dan memiliki akhlak yang baik dibanding sebelum masuk Pesantren Darul Ashom.
“Bahkan satu orang tua bilang, sekarang dia tenang kalau meninggal ada yang mengirim Al-Fatihah. Dulu kan tidak kebayang anak-anak itu bisa Al-Fatihah, bisa Yasin. Ujian kemarin di sini mereka bisa menyolatkan, mengkafani, sampai menguburkan. Mereka itu sebenarnya bisa, punya harapan jadi ulama, tapi tidak ada ulama yang memberikan mereka (pengetahuan agama),” ujar Abu.
Perjalanan Pondok Pesantren Darul Ashom menunjukkan keterbatasan pendengaran tidak menjadi penghalang bagi santri untuk memahami dan menghayati ajaran agama secara mendalam. Berangkat dari keresahan pribadi, upaya Abu Kahfi kini berkembang menjadi ruang pendidikan keagamaan yang memberi harapan, kepercayaan diri, dan masa depan spiritual bagi ratusan santri tuli dari berbagai daerah di Indonesia
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....