Ponpes Tuli di Sleman Pakai Metode Madinah, Setor Hafalan Pakai Isyarat

  • 23 Feb 2026 10:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Abu Kahfi, pendiri Pondok Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom di Kalurahan Sidomoyo Godean menyebut pembelajaran agama dilakukan dengan menyadur metode khusus seperti yang diterapkan di Madinah. Abu menyebut, santri belajar salat dan membaca Al-Quran dengan bahasa isyarat hijaiyah standar Arab, Mekah, dan Madinah. Metode ini bahkan sudah ada sejak 1425 hijriah.

“Sudah lama, hanya memang kami di Indonesia yang pertama mempopulerkan ya kami. Jadi kami tidak buat metode sendiri, kami metodenya mengikuti di Arab dan bahkan bersanad,” kata Abu baru-baru ini.

Abu menambahkan, Masjid Nabawi biasa menggelar halaqah ilmu maktab tuli, seperti halqah ilmu Al-Quran ataupun halaqah ilmu fiqih. Santri Darul Ashom, baik laki-laki ataupun perempuan turut mengikuti halaqah Al-Quran. Setidaknya 5 kali dalam satu pekan, santri turut melakukan setoran hafalan secara langsung ke Madinah melalui daring. Untuk santri laki-laki setoran hafalan dilakukan pada waktu dhuha hingga dzuhur.

“Kalau yang akhwat itu dalam waktu bada subuh di sana (Madinah) sampai waktu duha. Jadi, dua halaqah, ikhwan dan akhwat,” ujar Abu.

Abu mengatakan, ada sejumlah tantangan tersendiri dalam melakukan transfer ilmu agama kepada para santri tuli. Kesulitan paling terasa utamanya pada masa awal memperkenalkan, mempelajari, serta membiasakan membaca Al-Quran. Abu menjelaskan, perlu adanya pembiasaan bahasa isyarat dengan bahasa Indonesia. Sebab, berbeda dengan Bahasa Indonesia, bahasa isyarat tak mengenal imbuhan. Dengan demikian, Abu harus memastikan pelajaran agama yang disampaikan melalui bahasa isyarat ini benar-benar bisa diterima dengan baik maknanya oleh para santri.

“Tapi Alhamdulillah saat ini anak-anak kami sudah punya kurikulum 28 kitab akan mereka kaji dari mulai kelas 1 sampai kelas 9,” kata Abu.

Abu menjelaskan, Pesantren Darul Ashom memiliki tahapan kelas, dari kelas 1 sampai 9. Menyamakan level kemampuan anak tuli di masa awal masuk turut menjadi tantangan lantaran tak semua santri berbekal kemampuan di level yang sama. Abu berupaya untuk membuat santri lulusan Darul Ashom ini memiliki kemampuan yang setara dengan orang kebanyakan. Kini dari total 120 santri laki-laki dan 60 santri perempuan, setidaknya ada yang berhasil menghafal hingga 18 juz. Ada pula santri yang berhasil menghafal 3 juz secara mutqin atau tanpa salah.

“Yang 3 juz aja ada kemarin dari jam 08.00 pagi sampai jam 08.30 malam. Jadi ngaji mereka kan huruf-huruf. Jadi perjalanan menyetorkan lebih sulit dan lebih lama daripada kita,” ucap Abu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....