Jadi Ustadz di Darul Ashom, Aldi Otodidak Belajar Isyarat

  • 23 Feb 2026 10:06 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Santri tuli di Pesantren Darul Ashom turut didampingi oleh belasan ustadz, salah satunya adalah Muhammad Aldi. Aldi mengaku sudah tiga tahun mengabdi di Pesantren Darul Ashom. Dia membutuhkan waktu setidaknya satu tahun untuk mempelajari bahasa isyarat yang dilakukan secara otodidak. Dia turut berbaur dengan para santri sehingga lebih mudah memahami bahasa isyarat. Di sisi lain, Aldi yang dulunya juga santri ini mengaku terketuk hatinya saat melihat santri tuli. Dia merasa terdorong oleh semangat para santri tuli dalam menghafalkan Alquran.

“Dari semangat anak-anak itulah saya terketuk ingin membersamai mereka. Dari sanalah saya belajar sedikit isyarat, belajar Alquran. Alhamdulillah mulai terpanggil untuk sama-sama membimbing mereka menghafal Alquran, belajar agama,” kata Aldi saat ditemui di Pesantren Darul Ashom beberapa waktu lalu.

Aldi mengatakan Mahabbah menjadi prinsip yang dia pegang selama mendampingi santri tuli. Aldi mengatakan dia turut melakukan sambung hati dengan santri. Menurutnya, jika sudah terjalin kedekatan dan terjadi kesinambungan antara ustadz dan santri, maka proses transfer ilmu akan mudah dilakukan. Tak sekedar mengajari ilmu agama, Aldi juga memahami karakter santri satu demi satu. Meski demikian, dia tak memungkiri tantangan tetap dia hadapi selama membimbing santri tuli.

“Mengajarkan Alquran kepada anak-anak dengan gangguan pendengaran, jelas mereka ini kepahamannya berbeda-beda, karakter yang berbeda-beda, dari pendidikan awalnya dari rumah ini berbeda-beda. Jadi, ketika datang ke pondok mungkin ada ada step yang khusus untuk mereka,” ucapnya.

Aldi menyebut santri tuli yang belajar agama tak jauh berbeda dengan gelas kosong yang diisi. Usai mendapatkan ilmu yang baru didapatkan selama hidupnya, santri akan langsung menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Aldi, ini berbeda dengan kebanyakan orang yang sudah mengerti ilmu agama sejak lahir dan cenderung mengabaikannya.

"Ketika mereka (santri tuli) hafal ilmu, mereka tahu mereka langsung amalkan. Itulah yang membuat bisa lebih kuat lagi, lebih sungguh-sungguh lagi,” katanya.

Pendiri Pesantren Darul Ashom Abu Kahfi mengatakan kemampuan bahasa isyarat menjadi syarat wajib bagi pengajar di Pesantren Darul Ashom. Tak hanya itu, pengajar juga memiliki kemampuan hafalan Alquran yang baik. Abu juga menambahkan, pengajar juga didorong untuk menunjukkan totalitasnya. Misalnya dengan tinggal dan beraktivitas bersama dengan para santri.

“Karena kalau tidak ada totalitas tidak bisa. Ustaz ini harus mendalami kehidupan mereka sehingga feel-nya dapat. Jadi keilmuan ini akan disampaikan kepada mereka ketika ustaz ini totalitas bahasanya, gesturnya, kejiwaannya baru akan nyambung ke mereka (santri tuli) karena bahasa tuna rungu ini bahasa bukan bahasa kata, tapi bahasa visual,” kata Abu.

Proses belajar agama di Pesantren Darul Ashom dapat berlangsung efektif dengan pendekatan yang penuh empati dan kesabaran. Pengabdian yang dilakukan Muhammad Aldi sekaligus menegaskan ketulusan, kedekatan hati, dan kemauan belajar bersama menjadi kunci dalam membangun pendidikan keagamaan yang inklusif bagi santri tuli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....