Ramadan Harus Mampu Menghadirkan Toleransi dan Moderasi Beragama
- 11 Feb 2026 14:31 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Implementasi moderasi beragama diharapkan kembali menguat selama bulan suci Ramadan nanti. Momentum puasa dimaknai tidak hanya sebagai ibadah personal,menahan rasa haus dan lapar tetapi juga sebagai ruang sosial untuk mempererat toleransi, saling menghormati, dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
"Moderasi beragama mengajarkan harmoni, persaudaraan dan menghindari fanatisme yang berlebihan ya karena puasa itu empati sosial, menahan emosi dan puasa itu tidak untuk dipersaingkan mana yang lebih baik puasanya. Justru kita bisa melihat bagaimana kerukunan antara umat beragama saling mendukung ketika sesamanya yang nanti akan menjalankan ibadah puasa," ujar H Abdul Salim, SAg selaku Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Yogyakarta dan juga Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Yogyakarta kepada RRI ketika Obrolan Astacita pada Selasa, 10 Februari 2026.
Abdul Salim menyebutkan, makna puasa juga mengandung arti keseimbangan. Manusia diminta untuk tidak hanya mengejar dunia semata, tetapi juga mengembangkan aspek sosial rohaniah yang ada.
"Puasa itu kan ada namanya prinsip tawazun yaitu keseimbangan, jadi tidak hanya fokus pada dimensi fisik dan lapar gitu ya tapi saya mengajak bagaimana juga puasa itu kita wujudkan ada dimensi sosialnya. Puasa itu tetap harus produktif ya hanya mungkin lama kerja atau beraktivitasnya dikurangi, bukan mengasingkan diri ke tempat tertentu, tidak berinteraksi, tidak mencari nafkah dan sebagainya,” ujarnya.
Menurut Abdul, berpuasa melatih orang untuk memiliki sifat tasamuh atau toleransi agar saling menghormati bahkan orang yang berpuasa juga harus memberikan penghormatan kepada orang yang tidak berpuasa.
"Jadi kalau kita sedang berpuasa di rumah ada anak-anak yang belum waktunya berpuasa, ada orang sakit, ada orang lansia, ada orang musafir itu tidak boleh kita kemudian menutup aspek-aspek layanan kemanusiaan tapi tetap harus jalan ya," ucap dia.
Selain itu, orang yang tidak punya keyakinan puasa itu wajib juga harus tetap dihormati, dihargai, diperkuat nilai toleransinya dan dibangun kepedulian sosialnya. "Puasa memberikan nilai-nilai bagaimana melakukan pengendalian diri kalau dalam bahasa genah (terangnya, red Jawa) untuk bagaimana supaya kita mengurangi maksiat, mengurangi hal yang dilarang dan yang berlaku destruktif," kata Abdul.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....