Kala Bule Berbagai Negara Ikut Lomba "Pitulasan" di Yogyakarta

  • 17 Agt 2026 19:11 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Suasana dan kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tidak hanya dirasakan dan diikuti warga Indonesia, tetapi sejumlah warga negara asing atau bule juga menikmatinya. Dalam ajang yang bertajuk Javanese Cultural Festival 2026, puluhan bule memainkan aneka permainan khas perayaan kemerdekaan, Senin, 17 Agustus 2026.

Kegiatan yang diinisiasi the Friendship Force Yogyakarta ini dipusatkan di kawasan Hyatt Regency Yogyakarta festival ini diawali dengan upacara bendera yang dilaksanakan secara khidmat di Merapi Garden pada pukul 07.00 WIB. Aneka permainan "Pitulasan" yang diikuti sejumlah bule ini seperti Jemparingan, lomba kelereng, sarung, dakon, hingga bakiak dan egrang.

Salah satu peserta perwakilan dari Amerika Serikat, Adam Koons mengungkapkan apresiasinya atas permainan tradisional yang dikenalkan. Meski timnya harus kala saat mengikuti lomba bola tampah, akan tetapi ia mengaku sangat menikmati lomba-lomba tradisional Jawa.

"Tadi meski tim saya kalah, namun sangat enjoy, dan menikmati. Sangat sangat bagus ya permainan lomba ini," katanya.

Ketua panitia dr. Nurfifi menyampaikan, tujuan utama digelarnya Javanese Cultural Festival 2026, untuk mempererat persahabatan internasional. Disamping itu juga sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada peserta dari berbagai latar belakang.

"Kami ingin membawa semangat kemerdekaan atau HUT RI ke 81 ini melalui pengenalan permainan tradisional dan seni budaya Jawa kepada seluruh tamu yang hadir. Tadi kita juga adakan semacam lomba lomba untuk memeriahkan 17 Agustus," ujarnya.

Lomba-lomba ini menjadi bagian dalam rangkaian kegiatan Javanese Cultural Festival 2024, di mana pihak penyelenggara dari Friendship Force Club Yogyakarta. Sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

"Ya, sekalian untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, sehingga Friendship Force seluruh dunia itubisa ikut apa merayakan event ini. Jadi kita ada nanti lomba-lomba tradisional, kemudian ada juga exhibition, ada workshop seperti membuat batik, membuat ecoprint, kemudian jemputan, kemudian juga ada memasak masakan tradisional," ujarnya, menjelaskan.

Event yang diikuti peserta dari berbagai negara, diantaranya Jepang, US, Australia, hingga Inggris, untuk lebih mengenalkan budaya Jawa ke seluruh dunia melalui Friendship Force ini. Kontribusi dari Friendship Force Indonesia, terutama dalam hal ini Club Yogyakarta, untuk mempromosikan budaya sehingga akan menarik minat wisatawan.

"Yang saat ini sebetulnya budaya Jawa, mungkin nanti misalnya Aceh bisa menyelenggarakan, sehingga kita bisa menarik lebih banyak wisatawan datang ke Indonesia. Saya rasa salah satunya ini mungkin juga untuk memperoleh devisa juga ya. Kemudian memperkenalkan tradisi-tradisi Indonesia ke seluruh dunia, dan ini juga bisa menjalin suatu persahabatan. Jadi, ada pepatah, "changing the way you see the world', harapannya kita mungkin akan ada pandangan yang lebih soft gitu ya, sehingga bisa meredakan ketegangan," ujarnya, mengungkapkan.

Beragam aktivitas permainan tradisional 'Pitulasan' dihadirkan kepada para peserta di South Garden pada pukul 09.30 WIB. Tidak hanya itu, peserta juga berkesempatan mencoba langsung membuat batik tulis, jumputan, serta menikmati hidangan khas Yogyakarta yang disajikan oleh Sekar Ayu.

Puncak rangkaian acara pada hari pertama ini ditutup dengan agenda istimewa pada malam hari, yakni makan malam bersama Wali Kota Yogyakarta di Ndalem Yudhonegaran, yang dilanjutkan dengan pertunjukan fragmen wayang kulit oleh Prof Edi Laksono. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi budaya yang berkesan bagi para peserta Friendship Force, serta menjadi bukti nyata dukungan komunitas internasional terhadap pelestarian warisan budaya bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....