Diikuti 413 Peserta, Saladin Camp Ketujuh Jadi Momentum Penguatan Kepemimpinan

  • 04 Agt 2026 16:36 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sebanyak 413 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Saladin Camp Batch 7 yang diselenggarakan Saladin Community bersama Ummah International di Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung pada 17–29 Juli 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kader kepemimpinan melalui penguatan ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan wawasan geopolitik.

Saladin Camp Batch 7 digelar di Asrama Haji dan Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) Yogyakarta. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, pengusaha, aktivis, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga. Mereka datang dari sejumlah daerah seperti Jakarta, Riau, Makassar, Bandung, Solo, serta Yogyakarta sebagai peserta terbanyak.

Dalam sambutannya, Ghufron Mustaqim mengatakan, Saladin Camp merupakan salah satu program kaderisasi Saladin Community yang berada di bawah Ummah International. Program tersebut dibangun dengan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan menjadi fondasi perubahan, pembebasan, dan peradaban.

"Saladin Camp adalah bagian dari program Saladin Community yang berada di bawah organisasi Ummah International. Kita bergerak di atas prinsip bahwa ilmu pengetahuan membawa pada perubahan, pembebasan, dan peradaban," ujarnya.

Selama kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan materi-materi seperti Apa Bencana yang dialami Umat Muslim, Pembebasan Akal dengan Ilmu, Perbedaan Ilmu dan Ma’rifah, Perhatian Al-Quran terhadap Baitul Maqdis, Strategi dan Langkah Pembebasan Baitul Maqdis Rasulullah Saw, Teori Lingkaran Berkah Baitul Maqdis, Tadabbur Surat Al Isra', Pendalaman terkait Amaan Theory, ‘Uhdah Al-‘Umariyyah (Piagam Umar), serta Peta geopolitik terkini negara-negara di sekitar Baitul Maqdis dan analisis mutakhir terhadap peristiwa-peristiwa yang berkembang serta Arah untuk membentuk masa depan.

Pakar kajian Baitul Maqdis, Prof. Abd al-Fattah El-Awaisi. (Foto: Dok/Saladin Camp)

Pakar kajian Baitul Maqdis, Prof Abd al-Fattah El-Awaisi mengatakan, ilmu yang dipelajari dalam Saladin Camp diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.

"Selama Saladin Camp ini, kita telah hidup dengan ilmu dan ilmu hidup bersama kita. Ilmu bertransformasi menjadi amal dan aksi yang nyata. Ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal dan menjadi sumber harapan, serta membentuk identitas," ucapnya.

Abd al-Fattah juga menyebutkan, bahwa ilmu membawa perubahan dan perubahan itu di mulai dari diri sendiri, yang akhirnya dari perubahan itu secara konfrehensif akan membawa pada pembebasan dan peradaban.

"Seorang al-Maqdisi adalah mereka yang memikul amanah dan tanggungjawab yang besar untuk pembebasan, dan dia berjuang dinegaranya sesuai dengan kemampuan yang dia miliki," ucapnya, menambahkan.

Nasir Salahuddin membebaskan Baitul Maqdis dengan pena Al-Qadi Al-Fadil. Seperti pengamatan Abd al-Fattah El-Awaisi, pena Al-Fadil adalah sebuah institusi. Dan institusi tersebut sekarang adalah Saladin Community dan Ummah International dengan cita-cita menjadi pena itu untuk pembebasan yang akan datang.

"Kita adalah pilihan Allah swt untuk mengisi kekosongan perjuangan yang telah terlupakan oleh umat ini selama 108 tahun. Umat telah melakukan berbagai upaya politik dan militer namun terus mengalami kegagalan, karena melupakan salah satu pondasi dasar yaitu persiapan ilmu (I'dad Ma'rifi). Maka tugas utama kita adalah melakukan I'dad Ma'rifi, dan Indonesia adalah leader utama yang akan memainkan peran besar untuk pembebasan di masa yang akan datang," tegas Prof. Abd al-Fattah.

Pada Kelas Eksekutif, Abd al-Fattah mendorong peserta untuk berdiskusi secara strategis mengenai perluasan I'dād Ma'rifi di seluruh Indonesia dan secara global, serta meemberi nasehat tazkiyah kepada para peserta.

"Tazkiyah diri kita, bahwa sepanjang apapun umur kita. Maka kembali kepada Allah adalah jalan terkahir kita. Banggalah dengan sesuatu yang Allah swt muliakan kita dengannya yaitu Islam. Buat Nabi Muhammad saw bangga kepada diri kita atas perjuangan yang kita lakukan saat ini, saat kita berjumpa di kehidupan akhirat. Yakinlah bahwa kitalah generasi pembebas Baitul Maqdis itu dan kembalikan segala pujian dan kekuatan hanya kepada Allah swt," ujarnya dengan penuh haru bersama seluruh peserta.

Abd al-Fattah el-Awaisi di akhir-akhir kegiatan Saladin Camp menegaskan, bahwa insyaallah, dalam waktu yang dekat kita akan salat shubuh di dalam Masjid al-Aqsa yang telah dibebaskan, kurang dari sepuluh tahun mendatang. Maka, apapun kemampuan dan keterampilan yang kita miliki, harus dikerahkan kepada kontribusi terhadap pembebasan Baitul Maqdis.

Sebagai informasi Ummah International adalah sebuah gerakan tajdīd (pembaharuan Islam), di mana para pengusaha, profesional, dan intelektual menempuh pertumbuhan spiritual, intelektual, dan fisik demi membentuk generasi pemimpin yang layak menyandang gelar Amīn al-Ummah (mereka yang dapat dipercaya oleh umat). Kaderisasi ini terwujud dalam Saladin Camp, yang hingga kini telah meluluskan 1.000 lebih alumni.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....