Expert Forum GDA, Bicara Pentingnya Energi Baru Terbarukan untuk Indonesia
- 05 Apr 2026 07:37 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ratusan siswa siswi Global Darussalam Academy (GDA) mengikuti 'Expert Forum GDA' yang diselenggarakan, Sabtu, 4 April 2026. Forum diskusi ini secara khusus menyoroti urgensi transisi dan kemandirian Energi Baru Terbarukan (EBT) di tengah bayang-bayang krisis energi fosil akibat konflik geopolitik global.
Founder Global Darussalam Academy, Muhammad Romahurmuziy mengatakan, isu krisis energi saat ini sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Oleh karena itu, GDA sengaja menghadirkan Praktisi Energi Terbarukan yang juga Principal Power System Analyst RES Group UK, Abram Perdana, Ph.D., untuk memberikan wawasan langsung kepada para siswa.
"Seiring dengan adanya perang di Iran yang sekarang terjadi mengakibatkan terjadinya krisis energi fosil. Saya kira bidang beliau sangat relevan sehingga kita hadirkan di sini supaya bisa menyampaikan insight kepada para siswa," katanya.
Abram Perdana, Ph.D., mengatakan, isu energi saat menjadi pusat perhatian tidak hanya bagi para pendidik, tetapi juga masyarakat. Hal ini ditegaskannya, melihat kondisi yang terjadi di Timur Tengah saat ini.
Hal inipun lanjut Abram, mengharuskan bangsa Indonesia untuk menyiapkan diri untuk memiliki sistem energi yang resilien. Dijelaskannya, salah satu komponen dari sistem energi yang resilien adalah dukungan dari renewable energy atau energi terbarukan.
"Menurut pandangan saya kita tidak perlu terlalu mengkonfrontasikan antara energi fosil atau energi renewable energy. Saya sendiri optimis bahwa dengan apa yang saya sampaikan tadi renewable energy itu sekarang sudah menjadi pemain utama bukan lagi menjadi pemain figuran," katanya.
Dari sisi manfaat bagi para siswa mengetahui kondisi energi saat ini, menurut Abram, merupakan upaya membangun motivasi dan optimisme kepada para siswa. Karena, generasi penerus harus mengetahui dan dihubungkan dengan gerakan-gerakan renewable energy di negara-negara yang lain agar mereka dapat lebih teredukasi dan terbuka dengan kondisi saat ini.
"Kita harus ingat loh bahwa renewable energy ini adalah masa depan mereka. Fosil, oke, kita masih bergantung, tetapi kalau kita berbicara generasi yang akan datang, kita berbicara lingkungan, itu mereka yang akan merasakan," ucapnya.
Antisipasi pemanfaatan energi yang tidak terbarukan bagi masa depan lanjut Abram, akan memiliki dampak tidak hanya dari sisi climate change atau perubahan iklim yang dirasakan saat ini. Tetapi juga berpengaruh pada climate politics yang bisa melanda Indonesia ketika sistem renewable energy tidak disiapkan sejak saat ini.
"Climate politics, kita akan ditekan oleh negara-negara yang sudah establish renewable mereka. Kemudian kalau mereka menetapkan ada jatah compulsory portion dari energi yang harus datang dari renewable energy, kita enggak siap," ujarnya.

Secara teknis, Indonesia memiliki banyak sumber daya energi terbarukan mulai dari energi panas bumi, matahari sebagai negara tropis, dan sebagainya, apalagi saat ini banyak peralatan-peralatan yang terjangkau dalan mewujudkan renewable energy. Ambram menjelaskan, saat ini daya yang terpasang 700 ribu MW di dunia berasal dari renewable energy, jumlah tersebut merupakan 90 persen dari total daya terpasang yang dibangun tahun lalu.
"Saya harapkan juga pengambil keputusan kita bisa lebih serius lagi. Karena kita tidak menseriusi kebijakan kita di dalam renewable energy kita akan dilindas oleh saya sebutkan untuk climate politics," katanya, menambahkan.
Abram mengakui, keterjangkauan selalu menjadi persoalan dan mungkin tidak akan diselesaikan dalam waktu yang singkat, tetapi proses keseriusan untuk kemandirian dan sub-efisiensi di renewable energy di Indonesia itu harus menjadi prioritas. Kalau kita tidak menyiapkan nanti tidak ada investment masuk ke Indonesia itu dari perspektif saya," ucapnya, menjelaskan.
Abram juga menyoroti, tantangan dalam mewujudkan energi baru terbarukan di Indonesia, terutama dari sisi tumpang tindih regulasi, banyaknya inefisiensi yang terjadi, bahkan arogansi Departemental. Di mana hal ini harus dimulai diatasi, untuk mewujudkan renewable energy Indonesia.
"Tanpa itu semua disiapkan, saya kira program kita hanya akan menjadi program, target kita hanya akan menjadi target, tapi tidak akan pernah terwujud. Selalu akan selalu mundur-mundur dan saya kira kita perlu berambisi secara lebih," ujarnya, mengungkapkan.
Melalui Expert Forum GDA ini Abram juga berharap, ambisi yang kuat untuk konversi ke renewable energy dapst terbangun di Indonesia. Agar bangsa ini bisa lebih kompetitif dan membuka pasar tidak hanya konsumtif dari negara-negara yang sudah menerapkan renewable energy.
"Membenturkan energi fosil dengan minyak dan energi terbarukan saya kira mungkin bukan isu saat ini. Tapi bagaimana kita serius dulu, bahwa kita punya target memang, dan kita punya target ini merupakan sebuah kebutuhan kita, agar kita bisa kompetitif, agar kita bisa menjadi pasar, karena kalau kita membangun energi yang kuat end the end of the Day (pada akhirnya nanti) itu akan membangun kemandirian energi lokal kita juga, industri lokal kita juga," ujarnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....