Haedar Nashir: Idulfitri Momentum Berbagi dan Memaafkan

  • 19 Mar 2026 17:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Setelah sebulan penuh berpuasa, sebagian besar umat Islam merayakan Idulfitri pada Jumat, 20 Maret 2026. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr H Haedar Nashir meminta agar momentum 1 Syawal dijadikan hari besar untuk berbagi, peduli, dan membangun persaudaraan melintas.

Menurut Haedar, membangun kepedulian untuk pengaman jaringan sosial ini tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga global. Contohnya untuk umat Islam di Palestina, Iran, dan di berbagai belahan bumi lainnya yang tengah tertindas maupun membutuhkan uluran tangan.

“Memberi adalah panggilan dari semangat ke-berislaman kita untuk siapapun tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Dan itulah yang harus kita hidupkan setelah bulan Ramadan,” ucap Haedar, Kamis, 19 Maret 2026.

Dalam Refleksi Idulfitri 1447, Haedar Nashir mendorong, jejak dari pendidikan di bulan Ramadan perlu diawetkan oleh kaum Muslimin. Salah satunya, adalah menahan amarah. Meski marah melekat pada setiap insan, tapi menjadi pemarah sampai pada sikap berlebihan tentu harus dieliminasi.

“Banyak masalah terjadi ketika kita tak mampu menahan marah, dan banyak hal terjadi ketika kita marah,” ujar Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Pesan yang juga ditekankan Haedar adalah memberi maaf – jika pernah marah disebabkan oleh orang lain, maka gudang maaf yang besar itu harus disiapkan untuk diberikan kepada siapapun orang itu.

“Maka bagaimana kita bisa memiliki jiwa pemaaf. Ketika kita salah, kita meminta maaf, itu adalah hal yang baik. Tetapi pada saat yang sama orang berbuat salah, dan kita memberi maaf, itu lebih baik lagi,” katanya.

Sebaliknya, seorang Muslim yang baik harus berjiwa besar untuk meminta maaf ketika dirinya berbuat atau berlaku salah. Dengan demikian, puasa yang dijalankan selama Ramadan bisa berdampak pada kehidupan kolektif maupun pribadi.

“Di bulan Syawal ketika kaum muslimin memulai satu Syawal sebagai hari pertama beridulfitri dan sekaligus memulai hari baru, maka kebiasaan yang sangat baik adalah bersilaturahmi,” ucap dia.

Silaturahmi sebagai ruang bersama untuk memperbaiki kualitas hubungan kemanusiaan di level keluarga, masyarakat, bahkan antar bangsa. Di sisi lain rusaknya kemanusiaan disebabkan hancurnya hubungan yang melintas.

“Dari sinilah pentingnya kita membangun persaudaraan. Persaudaraan yang melintas batas, baik sesama iman maupun dengan seluruh anak bangsa dan siapapun yang ada,” ujar Haedar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....