Sego Berkat Tetap Bertahan di tengah Modernisasi Kuliner Gunungkidul

  • 16 Mei 2026 09:14 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta- Di tengah menjamurnya makanan modern dan tren kuliner kekinian, sego berkat masih mempertahankan tempat istimewa di hati masyarakat Gunungkidul. Kuliner tradisional ini tetap mudah ditemukan, baik di pasar tradisional maupun warung sederhana yang tersebar di berbagai wilayah.

Sego berkat dikenal sebagai sajian nasi lengkap dengan lauk rumahan yang dibungkus daun jati beraroma khas. Kesederhanaan tampilannya justru menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang merindukan cita rasa tradisional khas pedesaan.

Keberadaan sego berkat tidak bisa dipisahkan dari budaya slametan yang sejak lama hidup dalam masyarakat Jawa. Dahulu makanan ini identik dengan acara syukuran, doa bersama, hingga kegiatan sosial warga di lingkungan kampung.

Namun kini, masyarakat tidak perlu menunggu acara adat untuk menikmati sego berkat setiap hari. Banyak penjual mulai menghadirkan kuliner tersebut sebagai menu harian karena masih memiliki pembeli setia dari berbagai kalangan usia.

Harga yang terjangkau menjadi salah satu alasan sego berkat tetap diminati hingga sekarang. Dengan beberapa ribu rupiah saja, masyarakat sudah dapat menikmati nasi lengkap dengan lauk sederhana yang mengenyangkan dan penuh cita rasa khas rumahan.

Salah satu penjual sego berkat Yuni mengaku sering kehabisan ketika sedang menjajakan sego berkat ini. “Saya bukan yang membuat sendiri tetapi menjualkan nah tidak selalu membawa barang dagangan sego berkat ini, menjadikan banyak yang menanyakan kareana suka dan nikmat,” ujarnya Jumat 15 Mei 2026.

Selain soal rasa, penggunaan daun jati sebagai pembungkus juga membuat kuliner ini memiliki ciri tersendiri dibanding makanan modern lainnya. Aroma daun jati yang menyatu dengan nasi menghadirkan sensasi tradisional yang sulit ditemukan pada kemasan masa kini.

Eksistensi sego berkat menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih mampu bertahan di tengah perubahan zaman yang serba cepat. Bagi masyarakat Gunungkidul, makanan sederhana tersebut bukan hanya sajian harian, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang terus dijaga keberlangsungannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....