Ratusan Ahli Ortopedi Dunia Bahas Teknologi Sendi dan AI di Yogyakarta

  • 23 Agt 2026 10:57 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Sebanyak 100 ahli bedah ortopedi dan peneliti dari 15 negara berkumpul di Yogyakarta Marriott Hotel dalam forum ilmiah internasional Indonesian Hip and Knee Society (IHKS) 2026. Forum ini berlangsung selama tiga hari, Kamis, 20 Agustus 2026 hingga Sabtu, 22 Agustus 2026. Tahun ini IHKS 2026 mengangkat tema “Preserve or Replace: Optimizing Joint Longevity and Function”.

Sesuai tema, forum tersebut membahas penanganan masalah sendi yang kini tidak lagi berfokus pada operasi penggantian sendi. Perhatian utama kini tertuju pada upaya mempertahankan sendi asli pasien selama mungkin.

Dr. dr. Rizki Rahmadian, Sp.OT, Subsp.P.L(K), M.Kes mengatakan perkembangan ilmu kedokteran memungkinkan dokter melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan sendi alami pasien.

“Para ahli memperlihatkan bagaimana sains kedokteran modern berjuang mempertahankan sendi asli pasien selama mungkin. Melalui teknik perawatan jaringan tulang rawan terbaru hingga tindakan bedah invasif minimal (arthroscopy), sendi alami yang rusak coba diselamatkan agar pasien tak perlu tergesa-gesa menjalani operasi penggantian total,” ucapnya saat konferensi pers IHKS 2026 di Yogyakarta Marriott Hotel, Jumat, 21 Agustus 2026.

Namun, ketika kondisi sendi sudah tidak memungkinkan untuk dipertahankan, teknologi penggantian sendi terus berkembang melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan operasi berbasis robotik (robotic-assisted surgery). Rizki Rahmadian menyampaikan bahwa teknologi robotik membantu meningkatkan akurasi dokter.

“Istilahnya itu dipandu menggunakan robotik, tapi penggerak tetap adalah dokternya,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa robot membantu pengukuran digital sebelum operasi dan menjaga kestabilan tangan dokter. “Kalau manusia itu ada batasan kekuatan misal di lengan kadang gemeteran. Robot itu membantu agar lebih stabil dan presisi lagi,” ujarnya.

Mengenai teknologi AI, Ketua Indonesian Orthopaedic & Traumatology Research Society (IOTRS) Dr. dr. Norman Zainal, Sp.OT, M.Kes., FICS., CCD. menilai sistem tersebut sangat membantu proses medis, meski tidak akan menggantikan peran utama dokter.

“AI itu bisa sangat membantu dalam mendiagnosis penyakit orang,” ucapnya.

Norman Zainal juga menyoroti persoalan kemandirian Indonesia dalam produksi implan medis yang saat ini 94 persen masih berasal dari impor.

“Standar produksi implan medis sangat tinggi, mulai dari biomaterial, desain yang sesuai anatomi, hingga kemampuan tubuh menerima implan tanpa reaksi berbahaya. Karena itu, riset biomaterial dan inovasi lokal menjadi sangat penting,” katanya.

Selain teknologi operasi dan AI, forum ini turut membahas penanganan tumor muskuloskeletal. Presiden Indonesian Musculoskeletal Oncology Society (INAMSOS) Mujadid Idul Haram meluruskan stigma masyarakat mengenai penanganan penyakit tersebut.

“Stigma yang ada selama ini, tumor tulang berarti amputasi. Padahal, tidak selalu demikian. Jika memungkinkan, bagian tulang yang terkena tumor bisa diganti dengan implan khusus sehingga fungsi anggota gerak terjaga,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....