PCOS Resmi Berganti Nama Menjadi PMOS, Apa Alasannya?

  • 30 Mei 2026 21:49 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kondisi kesehatan yang selama ini dikenal sebagai PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) kini resmi berganti nama menjadi PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome). Seperti yang diunggah dalam akun komunitas @pcosfighterIndonesia, pada 13 Mei 2026 lalu, perubahan ini bukan sekadar mengganti istilah, tapi menjadi langkah penting untuk mengubah cara dunia memahami kondisi yang dialami 170 juta lebih perempuan di dunia.

Selama ini, PCOS sering dianggap hanya berkaitan dengan munculnya kista kecil di ovarium atau gangguan kesuburan. Padahal, kondisi ini jauh lebih kompleks karena dapat memengaruhi sistem hormon, metabolisme tubuh, kesehatan mental, kondisi kulit, hingga fungsi reproduksi.

Perubahan nama ini mendapat sambutan hangat dari ratusan perempuan yang turut mencurahkan isi hati terkait dengan PCOS yang dialaminya. “Kalo ternyata berubah, konsul masalah pmos itu baiknya ke dokter spesialis apa ya min?” tulis akun @mingkitako dalam unggahan tersebut.

Tak berapa lama kemudian direspon oleh admin pengelola akun @pcosfighterIndonesia. “Penanganan masih sama kak, namun semoga ke depannya PMOS bisa ditangani tidak hanya dari segi reproduksi (Obgyn) namun juga metabolik (Internist, Dermatologist, Nutritionist, Psikolog),’’ ujarnya dalam komentar balasan.

Keputusan perubahan nama ini merupakan kesepakatan global yang berasal dari workshop di seluruh dunia, lebih dari 22.000 tanggapan dan juga suara perempuan serta 56 organisasi di dunia. National library of medicine menyebutkan perubahan istilah ini juga menjadi pengingat bagi para penyintas PMOS bahwa kondisi yang mereka alami memerlukan perhatian dan perawatan jangka panjang. Jika tidak ditangani dengan baik, PMOS dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit lain, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga stroke.

Lalu apakah pengobatannya berubah? Dasar diagnosa yang digunakan masih sama, yaitu sel telur yang sulit dibuahi, hiperandrogen (kelebihan hormon androgen), dan gambaran ovarium polikistik.

Para ahli berharap penggunaan nama PMOS dapat mengurangi kesalahpahaman yang selama ini terjadi dan mendorong perempuan untuk lebih waspada terhadap gejala yang muncul, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....