Bukan Nama Penyakit, Dokter Ungkap Fakta Medis Mitos Panas Dalam

  • 11 Agt 2026 10:38 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Bibir pecah-pecah, tenggorokan sakit, sariawan, hingga batuk ringan sering diidentikkan oleh masyarakat sebagai gejala panas dalam. Anggapan adanya suhu panas berlebih di dalam tubuh membuat tidak sedikit orang langsung mengonsumsi minuman penyegar untuk mengatasinya.

Meski demikian, dalam dunia medis, istilah panas dalam sebenarnya tidak dikenal sebagai diagnosis penyakit spesifik. Istilah ini berkembang di tengah masyarakat hanya untuk menggambarkan sekumpulan gejala dari kondisi medis yang berbeda.

Dokter Wedelia Sadina Putri menjelaskan melalui kanal YouTube pribadinya bahwa istilah tersebut bukan merujuk pada satu penyakit tertentu.

"Panas dalam hanya istilah yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan beberapa gejala yang muncul secara bersamaan," ucapnya.

Setiap gejala yang kerap dilabeli panas dalam memiliki penyebab medis tersendiri. Rasa sakit di tenggorokan, misalnya, dapat disebabkan oleh peradangan atau infeksi virus. Sariawan dapat muncul akibat kekurangan vitamin tertentu atau luka gigitan, sedangkan sensasi panas di dada umumnya menandakan kenaikan asam lambung.

Lantaran penyebabnya bervariasi, penanganan untuk setiap keluhan tersebut memerlukan pendekatan yang disesuaikan dengan akar masalahnya.

Kebiasaan menyamaratakan semua gejala sebagai panas dalam kerap memicu penanganan yang kurang tepat, seperti hanya mengandalkan minuman penyegar. Langkah tersebut dinilai sekadar meredakan rasa tidak nyaman secara sementara tanpa menyelesaikan sumber gangguan kesehatan yang sebenarnya.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih teliti mengenali penyebab utama dari setiap gejala yang dirasakan. Jika keluhan berlanjut atau disertai gejala yang kian memberat, pemeriksaan langsung ke tenaga kesehatan sangat disarankan agar mendapatkan penanganan medis yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....