Benarkah Lari Maraton Memicu Plak Jantung? Ini Penjelasannya

  • 31 Jul 2026 12:56 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Olahraga lari, khususnya maraton, belakangan menjadi perbincangan setelah muncul hasil sejumlah penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan plak pada pembuluh darah jantung pada pelari endurance. Temuan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat. Namun, dokter dan edukator kesehatan dr Adam Prabata mengingatkan agar hasil penelitian itu tidak disalahartikan karena hingga saat ini belum terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung maupun kematian.

Melalui unggahannya di media sosial akun instagram @adamprabata, ia menjelaskan bahwa plak merupakan penumpukan kolesterol dan berbagai komponen lain di dalam pembuluh darah. "Plak sederhananya adalah penumpukan kolesterol dan komponen lain di pembuluh darah. Bila plak semakin banyak dan menebal, maka dapat mempersempit aliran darah, yang menyebabkan sel kekurangan oksigen dan nutrisi," katanya. Menurutnya, penumpukan plak di pembuluh darah jantung memang dapat meningkatkan risiko serangan jantung apabila menyebabkan penyempitan aliran darah.

Ia kemudian mengulas penelitian yang melibatkan sekitar 550 responden yang terdiri atas 191 atlet olahraga endurance sejak usia muda, 191 atlet yang mulai menjalani olahraga endurance setelah berusia lebih dari 30 tahun, serta 176 orang dewasa sehat yang bukan atlet. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu yang rutin melakukan olahraga endurance memiliki risiko sekitar 86 persen lebih tinggi untuk memiliki lebih dari satu plak pada pembuluh darah jantung dibandingkan orang dewasa sehat yang tidak rutin menjalani olahraga endurance.

Dr. Adam juga menyoroti penelitian lain yang dilakukan terhadap pelari maraton. Menurutnya, penelitian tersebut menemukan bahwa pelari maraton memiliki volume plak pada pembuluh darah jantung yang lebih tinggi. "Namun diameter pembuluh darahnya tidak menyempit signifikan," tulisnya dalam unggahan tersebut. Artinya, meski jumlah plak lebih banyak, kondisi tersebut belum tentu menyebabkan gangguan aliran darah yang bermakna.

Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian terhadap 108 pelari maraton. "Penelitian pada 108 pelari maraton ini menunjukkan bahwa risiko penyakit jantung dan kematian tidak berbeda signifikan dengan orang dewasa sehat, meskipun memiliki plak pada pembuluh darah jantung yang lebih banyak," ujar dr. Adam. Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan plak yang lebih tinggi pada pelari belum terbukti berdampak pada meningkatnya angka kejadian penyakit jantung maupun kematian.

Terkait penyebabnya, Adam menjelaskan terdapat beberapa dugaan mekanisme. "Olahraga endurance, termasuk lari, dapat menyebabkan stres berulang pada pembuluh darah jantung yang berujung pada peningkatan plak. Selain itu, lari terutama maraton dapat meningkatkan inflamasi sementara, sehingga diduga berkontribusi terhadap pembentukan plak," ujarnya.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa mekanisme tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Sebagai penutup, Adam mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa lari berbahaya bagi kesehatan jantung.

"Meskipun plak pembuluh darah jantung ditemukan lebih banyak pada pelari, tidak terbukti terdapat peningkatan angka serangan jantung dan kematian secara umum. Malah olahraga endurance, termasuk lari, adalah olahraga yang diketahui berasosiasi dengan peningkatan usia harapan hidup," kata dia seperti tertulis di medsos.

Ia pun menyimpulkan bahwa olahraga endurance memang berhubungan dengan peningkatan risiko munculnya plak pada pembuluh darah jantung, tetapi hingga kini tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung maupun kematian secara keseluruhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....