Wamenkes Beri Perhatian Pada Kasus Tuberkulosis di Indonesia

  • 29 Jan 2026 14:26 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Kulon Progo - Pemerintah Indonesia menempatkan sektor kesehatan sebagai salah satu pilar utama pembangunan bangsa. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Kesehatan, Benyamin Paulus Octavianus, saat berkunjung ke Kulon Progo, Kamis, 29 Januari 2026.

Benyamin menjelaskan, fokus utama Pemerintah pada saat ini adalah penguatan gizi nasional dan percepatan eliminasi penyakit menular, khususnya Tuberkulosis (TBC). Bahkan untuk kasus TBC, Indonesia kini menduduki peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia setelah India.

"Secara rasio, angka kita lebih tinggi dari India. Rasionya mencapai 386 per 100.000 penduduk, sementara India berada di angka 190. Ini tantangan besar yang harus diselesaikan secara lintas sektoral," Ujarnya.

Dalam penanganan, TBC tidak bisa hanya dilakukan oleh Kementerian Kesehatan. Diperlukan kolaborasi dengan kementerian lainnya, termasuk Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Perumahan. Fokusnya dari kolaborasi ini adalah perbaikan sanitasi dan renovasi rumah warga yang tidak layak huni. Bakteri penyebab TBC yakni Mycobacterium tuberculosis, sangat menyukai lingkungan yang lembap dan gelap.

"Bakteri TBC bisa bertahan lama di tempat yang lembap, namun mati jika terkena sinar matahari langsung. Karenanya harus dipastikan rumah warga memiliki ventilasi dan pencahayaan yang cukup. Ini adalah kunci pencegahan," katanya.

Benyamin menuturkan, TBC sering kali dianggap remeh karena gejalanya yang lambat. Meski demikian, penyakit ini tetap harus diwaspadai. Masyarakat yang terkena perlu memahami pentingnya kepatuhan dalam pengobatan yang memakan waktu minimal 6 bulan agar benar-benar sembuh total dan tidak menimbulkan resistensi obat.

Benyamin juga menyoroti, langkah strategis pemerintah dengan membentuk Badan Gizi Nasional untuk memutus rantai stunting dan gizi buruk di Indonesia.

"Saat ini, lebih dari 20.000 Satuan Pelayanan Gizi (SPG). Target utama kita sekitar 60 juta anak, balita dan ibu hamil, mendapatkan asupan makanan bergizi secara rutin," ujar Benyamin.

Program MBG diharapkan bisa memperbaiki kesehatan fisik, tetapi juga meningkatkan kecerdasan generasi mendatang.

Terkait TBC, Dinas Kesehatan Kulon Progo mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan penyakit menular seiring dengan perubahan cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, Susilaningsih, mengatakan, berdasarkan data pemantauan terbaru, terdapat tren peningkatan kasus penyakit tertentu yang perlu diantisipasi secara dini oleh masyarakat di tingkat kalurahan maupun kapanewon.

Penyakit tersebut seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) yang bisa meningkat di cuaca hujan yang tidak menentu. karenanya Masyarakat diminta aktif kembali dalam gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri di rumah masing-masing. Selain DBD, penyakit seperti diare dan leptospirosis juga perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang rawan genangan atau banjir.

Sebagai antisipasi, Dinas Kesehatan telah menginstruksikan seluruh Puskesmas di Kulon Progo untuk bersiaga.

"Kami telah meminta seluruh jajaran tenaga kesehatan dan kader di lapangan untuk meningkatkan surveilans berbasis masyarakat. Data yang masuk akan kami evaluasi secara harian agar langkah penanganan bisa dilakukan dengan cepat dan tepat," ujarnya.

Untuk saat ini, ketersediaan logistik medis dan obat-obatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama dipastikan masih dalam kondisi aman untuk mencukupi kebutuhan warga. Dinas Kesehatan berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat semakin tinggi, untuk mencegah penyebaran penyakit di wilayah Kulon Progo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....