Rektor UIN Sunan Kalijaga Soroti Penggunaan AI sebagai Jalan Pintas Karya Ilmiah

  • 01 Okt 2026 13:55 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan merasa prihatin terhadap penggunaan kecerdasan buatan atau AI sebagai jalan pintas dalam menulis karya ilmiah.

Ia merasa iba ketika seseorang dapat menghasilkan artikel, tetapi tidak memahami persoalan yang diteliti maupun argumen yang tertulis atas namanya. Menurutnya, yang hilang dalam cara kerja seperti itu justru proses belajar menjadi scholar.

“Memutuskan S2 dan S3 itu pilihan hidup untuk menjadi scholar, menjelaskan realitas secara sistematis, logis, dan empiris. Penjelasan diabstraksikan bisa jadi teori, model, konsep, dan lain-lain yang berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Basis inilah yang menjadi produksi ilmu pengetahuan. Orang berpikir maka ilmu pengetahuan itu ada,” ucaonya menegaskan.

Prof. Noorhaidi mencontohkan bahwa sebuah artikel ilmiah lahir dari proses yang Panjang, yakni merumuskan persoalan, menyusun penelitian, dan membangun argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Proses itu menuntut ketekunan.

“Kalau ingin menjadi scholar, ikutilah jalan sunyi yang berliku itu. Dengan begitu, Anda perlahan tumbuh menjadi peneliti dan produsen ilmu pengetahuan yang mandiri,” ujarnya.

Akademisi yang masuk Top 2% World Ranking Scientist ini menegaskan bahwa menulis karya ilmiah menuntut proses yang cermat dan komprehensif. Setiap paragraf perlu diperiksa koherensinya, setiap argumen ditimbang kekuatan datanya, dan setiap bagian didiskusikan dengan pembimbing. Melalui proses itu, peneliti menyusun penjelasan yang utuh atas persoalan yang dikajinya.

Menurutnya, kesimpulan ilmiah selalu bersifat tentatif, artinya berlaku sejauh didukung oleh data, teori, dan penalaran yang digunakan, serta terbuka untuk diuji oleh penelitian berikutnya. “Misal sebulan berikutnya ada yang membantah, tidak masalah. Anda sudah mengisi satu titik yang sempat kosong,” katanya.

Dengan demikian, ia mengajak mahasiswa kembali pada pekerjaan dasar seorang peneliti, yakni membaca dengan saksama. Ia juga menegaskan bahwa membaca berarti menangkap pertanyaan yang diajukan penulis, memahami teori yang digunakan, serta melihat bagaimana fakta mendukung kesimpulannya.

Prof. Noorhaidi menambahkan bahwa salah satu tugas peneliti ialah menghasilkan kebaruan atau novelty: menemukan sisi dari suatu persoalan yang belum dikaji atau dijelaskan oleh sarjana lain. Untuk mengetahui letak sumbangan tersebut, peneliti harus mengikuti perkembangan perdebatan akademik dalam bidangnya. Internet dan teknologi digital kini memudahkan akses terhadap penelitian dari berbagai negara, tetapi peneliti tetap perlu membaca dan menilai karya-karya itu secara kritis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....