SAKAPARI ke-18 Soroti Bisnis Arsitektur Masa Depan, Era Value-Based Approach
- 19 Sep 2026 11:34 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Desain Inovasi (FTDI) Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Universitas dari berbagai daerah di Indonesia kembali menggelar agenda akademik tahunannya, Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia (SAKAPARI) yang ke-18. Mengangkat tema "The Challenge of Future Architecture Business", ajang ini menyoroti pesatnya transformasi teknologi serta pentingnya pendekatan berbasis nilai (value-based approach) bagi praktisi arsitektur masa kini.
Ketua Program Studi Sarjana Arsitektur UII, Arifi Budi Sholihah, S.T., M.Sc., Ph.D., mengungkapkan, SAKAPARI telah konsisten digelar setiap semester selama sembilan tahun terakhir. Pada edisi ke-18 ini, SAKAPARI menggandeng Laboratorium Komunikasi dan Bisnis Arsitektur UII serta berbagai perguruan tinggi mitra sebagai co-host, seperti Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Universitas Halu Oleo Kendari, Universitas Mulawarman Samarinda, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
"Jadi, SAKAPARI sudah berkembang tidak hanya diselenggarakan oleh Arsitektur UII, tetapi juga kita bersama-sama ya dengan co-host dari berbagai universitas di Indonesia," katanya dalam pembukaan SAKAPARI ke-18 di Auditorium Lantai 3 Gedung Mohammad Natsir FTDI, Kampus Terpadu UII, Jumat, 18 September 2026.
Arifi Budi Sholihah mengungkapkan, pada SAKAPARI kali ini, menerima 102 full paper dengan 66 karya lolos seleksi, 11 poster presentation (6 diterima), serta 23 karya pameran. Menurutnya, SAKAPARI merupakan rangkaian seminar dan pameran rutin yang diselenggarakan setiap semester, yang di dalamnya membahas berbagai macam isu-isu aktual dalam dunia arsitektur, perkotaan, maupun kawasan.
"Tema yang kita angkat sangat relevan dengan fase transformasi eksponensial saat ini—mulai dari pesatnya Artificial Intelligence (AI), Building Information Modeling (BIM), hingga platform-based economy. Ini tidak hanya akan menghadirkan perangkat dan metode baru dalam proses perancangan, tetapi juga akan mengubah cara bagaimana arsitektur itu diproduksi, dikembangkan, dikelola, dan kemudian dihadirkan kepada masyarakat," ucapnya.
Arifi menambahkan, perubahan teknologi menuntut arsitek untuk tidak hanya berfokus pada hasil perancangan visual, tetapi juga bertindak sebagai inovator, wirausahawan, hingga peneliti yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. SAKAPARI ke-18 turut menghadirkan deretan keynote speaker terkemuka, seperti Rafael David (Co-owner & Principal Aboday Architects), Ismail Yakub (Principal Ismail Yakub and Associates), serta Agus Tiyawan (Dosen Arsitektur UII).
"Perubahan ini sebenarnya tidak hanya merupakan tantangan ya, tapi ini juga merupakan peluang. Seperti itu, sehingga kita para aksitek ke depannya harus terus beradaptasi, berinovasi, dan mempertanyakan kembali bagaimana arsitektur dapat memberikan nilai yang lebih besar kepada masyarakat dan lingkungan kita," katanya, menambahkan.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian, Ir. Hanif Budiman, M.T., Ph.D., IAI., IALE., dalam sambutannya menyampaikan, tentang pesan mendalam mengenai hakikat profesi arsitek yang berorientasi pada nilai kemanfaatan dan kolaborasi. Menurutnya, Rasulullah, Muhammad SAW adalah seorang wirausahawan dan dari beliaulah kita mendapatkan banyak nilai-nilai bahwa berwirausaha, berbisnis itu akan menghasilkan suatu kepercayaan, suatu network, suatu kolaborasi, dan sebagainya.
"Saya akan menyentil bahwa dari hakikat, arsitektur ontologinya, bahwa sebagai profesi adalah profesi yang multidisiplin. Akhirnya dia harus juga mengembangkan cara-cara berpikir yang lebih luas, dan profesi arsitek otomatis juga mengikuti perkembangan arsitektur itu," ujarnya.
Hanif juga memanfaatkan momen ini untuk memaparkan transformasi kelembagaan fakultas yang sebelumnya bernama Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) kini resmi berganti menjadi Fakultas Teknik Desain Inovasi (FTDI). Menurutnya, kata "desain" kini menjadi backbone bagi seluruh disiplin ilmu di fakultas tersebut, mulai dari arsitektur, teknik sipil, hingga teknik lingkungan.
"Desain bagi mahasiswa tentu memberikan gambaran kemampuan, skill yang lebih luas ke depannya. Teamwork, siap terhadap future technology, dan sebagainya," ujarnya, menambahkan.
Menurut Hanif, seiring pesatnya perkembangan teknologi, menentukan nilai sebuah karya desain hanya berdasarkan tarif waktu (hourly billing) atau jumlah tenaga kerja (manpower billing) sudah kurang relevan. Karena dijelaskannya, kecepatan, kemampuan itu sudah digantikan.
"Ke depan, kita harus mengedepankan value-based approach, bagaimana sebuah karya desain memberikan nilai, fungsi, serta dampak tepercaya yang jauh lebih luas bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya, menegaskan.
Desain tidak hanya berbicara tentang arsitektur, tetapi juga mencakup seluruh Prodi hingga jurusan yang menjadi backbond seperti Teknik Sipil dan Teknik Lingkungan. SAKAPARI ke-18 menjadi ruang bagi akademisi dan praktisi untuk merumuskan kembali masa depan arsitektur, agar tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mampu menghadirkan karya yang bernilai bagi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....