Kuliah Umum FTI UII, Praktisi Ungkap Kunci Kompetisi Masa Depan Bersaing dengan AI
- 21 Jun 2026 14:29 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Lanskap dunia kerja saat ini mulai mengalami transformasi secara masif didorong adanya transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi telah mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Diperkirakan 22 persen pekerjaan global akan menalami transformasi hingga 2030 mendatang.
Hal ini dikemukakan Dr. Ir. Raden Teduh Dirgahayu., ST., M.Sc., Ketua Jurusan Informatika FTI UII dalam Kuliah Umum Personal Branding & Career Mapping Berbasis Kekuatan Potensi Diri yang digelar Fakultas Teknologi Industri UII, Jumat, 20 Juni 2026. Berdasarkan laporan The Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, selain transformasi pekerjaan secara global, juga diperkirakan 39 persen keterampilan yang dimiliki tenaga kerja saat ini akan mengalami perubahan.
Di sisi lain, OECD (2025) menegaskan bahwa dunia kerja semakin membutuhkan kombinasi antara kompetensi digital dan keterampilan manusia seperti komunikasi, kolaborasi, kreativitas, serta kemampuan pemecahan masalah.
"Perubahan tersebut menyebabkan persaingan karier tidak lagi hanya ditentukan oleh gelar akademik atau indeks prestasi, tetapi juga oleh kemampuan individu dalam mengenali keunggulan dirinya, mengembangkan kompetensi yang relevan, serta mengkomunikasikan nilai yang dimiliki kepada dunia profesional," katanya, dalam keterangan tertulis, Minggu, 21 Juni 2026.
Teguh menjelaskan, dalam lingkungan kerja yang semakin terdigitalisasi, personal branding menjadi instrumen penting untuk membangun reputasi, meningkatkan visibilitas profesional, dan memperluas peluang karier. Sementara itu, career mapping diperlukan agar individu mampu merencanakan arah pengembangan kompetensi dan karier secara lebih terstruktur sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Teguh menegaskan, pendidikan pascasarjana tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, membangun jejaring profesional, serta menciptakan nilai tambah yang membedakannya dari tenaga kerja lainnya. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mengenai cara mengidentifikasi kekuatan potensi diri, membangun personal branding yang autentik, dan menyusun peta karier yang selaras dengan perkembangan dunia kerja
Teguh mengungkapkan, kuliah umum ini menjadi bagian penting untuk membekali mahasiswa dan lulusan S2 dengan wawasan, strategi, dan langkah praktis dalam mengoptimalkan potensi diri, meningkatkan daya saing profesional, serta mempersiapkan karier yang berkelanjutan di era transformasi digital," katanya, menjelaskan.
Sementara itu, Profesional Human Capital, Adityanto Prayogo membagikan pengalamannya, yang hampir dua dekade berkarier di bidang organisasi, human capital, manajemen strategis, supply chain, hingga transformasi bisnis. Ia menekankan pentingnya membangun reputasi melalui karya, mengembangkan kapabilitas melalui kinerja, serta terus bertumbuh melalui pembelajaran.
Adityanto menjelaskan, perjalanan karier seseorang selalu bergerak mengikuti perubahan situasi. Ia menggambarkan perjalanan tersebut mulai dari fase organisasi yang sehat dan stabil, fase pertumbuhan yang cepat, masa restrukturisasi, hingga transformasi akibat perubahan teknologi dan cara kerja baru.
"Setiap fase membutuhkan kemampuan adaptasi, disiplin eksekusi, serta kemauan belajar yang tinggi," ucapnya.
Adityanto mengungkapkan, keberhasilan karier tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan menavigasi arah karier secara konsisten, sehingga diperlukan fokus pada sejumlah inisiatif yang berdampak besar, target yang terukur, minim kesalahan dalam pelaksanaan, serta sikap yang dapat dipercaya dan konsisten. Pendekatan tersebut, menurutnya, membantu individu menjaga kualitas kerja sekaligus mencapai tujuan jangka panjang.
Dalam pemaparannya, Adityanto memperkenalkan tiga kunci karier berkelanjutan. Pertama, membangun reputasi personal melalui integritas, semangat untuk terus maju, dan kompetensi yang teruji. Kedua, membangun tim melalui kecepatan belajar, kepercayaan, dan kemampuan bekerja sama untuk menghasilkan dampak yang lebih besar. Ketiga, membangun kebijaksanaan melalui kerendahan hati, growth mindset, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, teknologi, dan kebutuhan bisnis.
Adityanto menegaskan, bahwa reputasi tidak dibangun melalui pencitraan, melainkan melalui karya dan nilai yang diberikan secara konsisten. Karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri tidak hanya untuk menjadi individu yang dikenal, tetapi juga individu yang bernilai dan memberi manfaat.
“Jangan fokus menjadi terkenal. Fokuslah menjadi bernilai,” ujarnya menutup kuliah umum yang dihadiri mahasiswa dan sivitas akademika FTI UII.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....