Kepercayaan Melonjak, FTI UII Sambut 1.277 Mahasiswa Baru dari Berbagai Jenjang

  • 12 Sep 2026 09:53 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) resmi menyambut 1.277 mahasiswa baru untuk Tahun Akademik 2026/2027. Di tengah iklim persaingan pendidikan tinggi yang ketat, kepercayaan masyarakat terhadap FTI UII justru terus melonjak, ditandai dengan kenaikan signifikan pada beberapa program studi (prodi).

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian FTI UII, Dr. Agus Mansur mengatakan, ribuan mahasiswa baru tersebut terdistribusi ke dalam empat jenjang pendidikan, 1.090 mahasiswa program sarjana, 87 mahasiswa program profesi insinyur, 78 mahasiswa magister. Termasuk lanjutnya terdapat 22 mahasiswa program doktor.

"Tahun ini betul-betul keberkahan buat kita semuanya, khususnya warga FTI UII. Kepercayaan masyarakat kepada kami luar biasa," katanya, Jumat, 11 September 2026.

Salah satu sorotan utama pada penerimaan mahasiswa baru tahun ini adalah lonjakan drastis pendaftar pada Prodi S1 Manajemen Rekayasa. Prodi yang baru didirikan satu tahun lalu ini mencatatkan kenaikan jumlah mahasiswa melebihi 100 persen, dari yang semula 20 mahasiswa pada tahun pertama menjadi 46 mahasiswa baru tahun ini.

Dr. Agus menjelaskan, Manajemen Rekayasa menjadi prodi favorit lantaran menjawab tantangan tren bisnis global yang menuntut penciptaan nilai tambah (value creation) produk secara cepat di tengah siklus pasar yang makin pendek. Saat ini, UII merupakan satu-satunya perguruan tinggi di wilayah Jawa Tengah dan DIY yang memiliki program studi tersebut.

"Manajemen Rekayasa berfokus pada soft engineering dan product design dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) serta machine learning. Kami mendidik mahasiswa untuk tidak hanya menjadi problem solver standar, tetapi menjadi pribadi inovatif yang mampu menciptakan value tinggi," ucapnya.

Selain Manajemen Rekayasa, Prodi S1 Teknik Industri tetap menjadi prodi dengan peminat tertinggi yang menampung 360 mahasiswa baru, disusul S1 Informatika sebanyak 192 mahasiswa.

Bukan Sekadar Mengejar IPK

Menghadapi persaingan dunia kerja dan industri global, FTI UII menekankan bahwa perguruan tinggi tidak sekadar tempat mengejar nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Mahasiswa diimbau untuk aktif membangun pengalaman berorganisasi, memperluas jejaring, serta mengasah keterampilan soft skill.

Pendekatan pendidikan di UII dirancang seimbang antara logika berpikir dan logika berdzikir guna mencetak lulusan berkarakter tangguh dan berjiwa Ulil Albab. Menurutnya, Ulil albab itu berarti mampu menyeimbangkan antara kemampuan logikanya dan kemampuan agamanya.

"Setelah lulus, tidak bisa hanya mengandalkan IPK. Banyak faktor di luar itu yang menentukan kesuksesan. Kami berpesan agar mahasiswa baru mengasah kompetensi, membangun karakter tangguh, dan menemukan jati diri mereka untuk bisa bersaing di tingkat global," ujarnya.

Sebagai bentuk komitmen dalam mendampingi dan mendorong potensi mahasiswa, FTI UII juga mengalokasikan dana pengembangan prestasi mahasiswa hingga sekitar Rp1 miliar per tahun. Alokasi ini mencakup reward publikasi ilmiah, pembiayaan penuh akomodasi perlombaan, hingga kebutuhan pembuatan karya untuk kegiatan peningkatan prestasi mahasiswa.

Dukungan tersebut terbukti membuahkan hasil nyata. Sejumlah tim mahasiswa FTI UII baru-baru ini berhasil meloloskan tiga tim ke babak final Gemastik Kementerian Riset dan Teknologi, lolos babak final Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI), lolos kejuaraan mobil listrik, hingga meraih berbagai medali di bidang olahraga nasional.

Dr. Agus menyebutkan, UII sebagaimana cita-cita founding father memiliki cita-cita tidak hanya mencetak para saintis, tetapi di UII juga disiapkan untuk menjadi para pemimpin. Diharapkan melalui UII, para mahasiswa nanti akan belajar tentang sains, belajar tentang agama, dan belajar tentang soft skill, sehingga mereka semakin terasah menjadi manusia-manusia yang mampu mandiri, mampu untuk menjadi manusia yang tidak hanya bisa menyelesaikan solusi, tetapi menjadi manusia-manusia inovatif yang bisa memiliki cara-cara baru untuk mengatasi masalahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....