Oxilink, Teknologi Disinfektan Inovatif Asal Jepang Siap Diuji Coba di Fapet UGM

  • 13 Jul 2026 09:02 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Industri perunggasan kini berpeluang mengadopsi sistem biosekuriti yang lebih aman dan efektif lewat kehadiran Oxilink, teknologi disinfektan mutakhir berbasis singlet oxygen yang dikembangkan oleh Oxilink Co., Ltd. asal Jepang.

Inovasi ramah ternak ini berpotensi besar masuk ke pasar Indonesia melalui penjajakan kerja sama strategis antara Forest Holdings (Jepang) dan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM).

Rencana kolaborasi tersebut mengemuka dalam presentasi yang disampaikan oleh Manager Corporate Strategy Division Forest Holdings Toshihiro Nakamura beserta tim di Kampus Fapet UGM pada Kamis, 9 Juli 2026.

Toshihiro Nakamura memaparkan, Oxilink dirancang khusus untuk menghasilkan daya sterilisasi tinggi guna membasmi berbagai mikroorganisme penyebab penyakit pada unggas. Keunggulan utama dari teknologi ini adalah formulisinya yang dipastikan aman bagi hewan, bahkan saat diaplikasikan langsung selama proses pemeliharaan ternak sedang berjalan.

Kehadiran Oxilink dinilai menjadi jawaban atas berbagai tantangan yang selama ini menghantui industri perunggasan. Menurut Nakamura, peternak saat ini masih kerap menggunakan disinfektan berbasis klorin yang bersifat korosif (merusak material). Selain itu, industri juga dihadapkan pada ancaman bakteri yang kian resisten terhadap bahan kimia, serta terbentuknya biofilm (lapisan lendir bakteri) pada saluran air minum yang menjadi sumber kontaminasi patogen.

"Selain efektif membersihkan lingkungan kandang, Oxilink juga dapat diaplikasikan langsung pada sistem air minum ternak. Teknologi ini mampu menekan dan mencegah pembentukan biofilm pada jaringan perpipaan, sehingga kualitas air yang dikonsumsi ternak tetap terjaga kebersihannya," ujar Nakamura.

Potensi besar yang ditawarkan oleh Oxilink ini disambut positif oleh Dekan Fapet UGM Prof Budi Guntoro. Dalam sesi diskusi, ia menggali lebih dalam terkait rekam jejak implementasi, perkembangan pasar Oxilink di Indonesia, hingga peluang pengembangannya di ranah akademik.

"Kami tertarik mengetahui sejauh mana teknologi ini telah diterapkan di Indonesia dan potensi ke depannya. Apabila memiliki dasar ilmiah yang kuat, tentu menarik apabila Oxilink dapat diuji coba langsung di kandang close house Fapet UGM sebagai bagian dari kegiatan riset dan pembelajaran mahasiswa," ujar Budi.

Prof. Budi menambahkan bahwa Fapet UGM senantiasa terbuka terhadap kolaborasi dengan mitra industri global seperti Forest Holdings. Sinergi ini diharapkan mampu menghadirkan inovasi teknologi yang tidak hanya solutif bagi tantangan peternakan modern, tetapi juga aman bagi keberlanjutan lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....