Raih Summa Cumlaude di UII, Sely Novita Sari Ciptakan Hunian Pascabencana

  • 26 Mei 2026 12:52 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia, khususnya gempa bumi. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selama tahun 2023 tercatat sebanyak 2.205 kejadian gempa bumi, dengan 219 kejadian berkekuatan lebih dari 5,0 Skala Richter (SR) di Indonesia.

Dampak dari kejadian tersebut menyebabkan sekitar 739.762 jiwa mengungsi dan sekitar 4,7 juta unit rumah mengalami kerusakan. Beberapa kejadian besar seperti gempa di Lombok, Palu, Cianjur, dan Sumedang menunjukkan bahwa persoalan hunian pascabencana masih menjadi tantangan utama dalam proses penanganan bencana di Indonesia.

Kondisi pengungsian yang tidak layak, termasuk fase awal tanggap darurat, yang hanya menggunakan tenda darurat yang bersifat sementara biasanya justru menimbulkan permasalahan baru, seperti kenyamanan, privasi, maupun ketahanan terhadap cuaca. Melihat urgensi ini, Promovenda Ir. Sely Novita Sari, S.T., M.T., dari Program Doktor Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Islam Indonesia (UII), menghadirkan solusi inovatif.

Melalui, disertasi berjudul 'Rancang Bangun Pengambilan Keputusan Menggunakan Sistem Pakar untuk Perencanaan Temporarg Modular Shelter (TMS) di Wilayah Terdampak Bencana di Indonesia, Ir. Sely Novita Sari mampu mempertahankan di depan majelis sidang ujian terbuka dan meraih gelar Doktor dengan predikat Summa Cumlaude, Senin, 25 Mei 2026.

Dr. Sely mengatakan, analisis perencanaan konsep desain TMS yang optimal, dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang memengaruhi keberhasilan implementasi hunian sementara pascabencana. Analisis ini menitikberatkan pada integrasi aspek teknis, logistik, sumber daya manusia (SDM), dan ketersediaan sumber daya lokal agar desain TMS yang dihasilkan bersifat adaptif, efisien, dan berkelanjutan.

"Tiga aspek utama yang menjadi dasar analisis adalah SDM, material lokal, dan keterjangkauan lokasi karena ketiganya secara langsung memengaruhi efektivitas pembangunan TMS di wilayah terdampak gempa bumi," katanya.

Sely menyebutkan, perancangan dan pembangunan sistem pakar dalam penelitian ini bertujuan untuk membangun suatu alat bantu pengambilan keputusan yang mampu memberikan rekomendasi desain TMS secara objektif, sistematis, dan adaptif berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Sistem pakar dirancang menggunakan pendekatan decision tree dengan memanfaatkan hasil analisis kuantitatif dan kualitatif pada tahap sebelumnya, sehingga logika.keputusan yang dibangun mampu merepresentasikan kebutuhan dan karakteristik wilayah terdampak gempa bumi.

"Pendekatan ini dipilih karena mampu menyederhanakan proses pengambilan keputusan yang kompleks menjadi struktur keputusan yang lebih mudah dipahami, ditelusuri, dan diimplementasikan oleh berbagai pemangku kepentingan," ucapnya.

Penelitian ini berhasil mengidentifikasi bahwa keberlanjutan perencanaan dan implementasi TMS di wilayah terdampak gempa bumi dipengaruhi oleh tiga indikator utama, yaitu ketersediaan material lokal, kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan keterjangkauan lokasi. Ketiga faktor tersebut memiliki kontribusi yang relatif seimbang dalam mendukung efektivitas implementasi TMS, sehingga perencanaan hunian sementara perlu dilakukan melalui pendekatan yang terintegrasi dan kontekstual.

Melalui integrasi ketiga indikator tersebut, penelitian ini berhasil mengembangkan sistem pengambilan keputusan berbasis decision tree yang menghasilkan 27 alternatif desain TMS. Hasil implementasi pada 29 lokasi pengujian di Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, dan DIY menunjukkan tingkat kesesuaian sistem sebesar 86,2 persen terhadap kondisi faktual di lapangan.

Sistem pakar yang dikembangkan mampu memberikan rekomendasi desain secara otomatis, konsisten, dan adaptif melalui mekanisme rule-based reasoning, dengan tipe desain yang paling dominan direkomendasikan adalah Eco-Friendly Expert Build (TMS 3-2-3) dan Balanced Eco-Modular (TMS 3-2-2).

"Secara teknis sistem modular memungkinkan komponen seperti rangka, panel dinding, dan struktur atap untuk dikembangkan secara bertahap tanpa perlu membongkar keseluruhan bangunannya. Maka unit TMS yang awalnya bisa kita gunakan sebagai hunian sementara, dapat kita tingkatkan kapasitasnya dan kualitasnya menjadi hunian permanen melalui penambahan modul ruang, penguatan struktur, maupun peningkatan dari utilitas bangunannya," ujarnya.

Sely menjelaskan, validasi sistem dilakukan melalui expert judgment, Focus Group Discussion (FGD), dan implementasi lapangan, yang menunjukkan bahwa sistem memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang dapat diterima dalam konteks penelitian eksploratif. Selain itu, sistem pakar berhasil diimplementasikan dalam bentuk platform berbasis web yang mampu mendukung proses pengambilan keputusan secara lebih cepat, sistematis, transparan, dan aplikatif bagi BPBD, BNPB, akademisi, dan praktisi teknik sipil.

"Saat bencana terjadi, sering bergantung pada bantuan atau kebijakan masing-masing dari institusi, sehingga menghasilkan kualitas dan pendekatan yang tidak konsisten, melalui sistem modular yang terstandarisasi, proses pengadaan, distribusi, perakitan, hingga pengembangan menuju hunian tetap nantinya dapat dilakukan lebih cepat dan efisien. Nah, selain itu, standarisasi juga mempermudah integrasi antar lembaga, meningkatkan efektivitas penanganan bencana, serta mendukung pengembangan sistem pengambilan keputusan nasional yang lebih terstruktur dan terkoordinasi," ujarnya, menambahkan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan keberhasilan integrasi antara pendekatan konseptual, analisis empiris, dan teknologi digital dalam mendukung perencanaan TMS pascabencana di Indonesia.

Ketua Tim Promotor, Prof. Ir. Sarwidi, MSCE, Ph.D., IP-U., ASEAN Eng., APEC. Eng., menyampaikan pesan, untuk tetap menjaga integritas dan nilai kemaslahatan ilmu. Menurutnya, gelar Doktor yang disandang bukan sekadar simbol prestise, melainkan sebuah amanah moral yang sangat besar.

"Riset yang Saudari kembangkan bukan sekadar deretan algoritma di atas kertas, tetapi sebuah solusi kemanusiaan yang adaptif untuk menolong para penyintas bencana. Gunakan ilmu ini dengan penuh integritas. Jadilah ilmuwan sipil yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka terhadap denyut kebutuhan sosial kemasyarakatan," katanya, mengungkapkan.

Kelulusan Dr. Ir. Sely Novita Sari, S.T., M.T., ini menambahkan jumlah menjadi enam Doktor darj Program Doktor Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Islam Indonesia (UII).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....