Prof. Fathul Wahid Ungkap Kunci Sukses Rebut Peluang Kerja Masa Depan di Era AI
- 24 Jun 2026 15:33 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ledakan perkembangan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) memicu kekhawatiran di kalangan mahasiswa informatika. Kemampuan AI merancang situs web, bahkan menyelesaikan tugas yang dahulu dikerjakan programmer profesional memunculkan pertanyaan, apakah lulusan informatika masih dibutuhkan?.
Hal ini diungkapkan, Prof. Fathul Wahid., ST., M.Sc., Ph.D., Guru Besar Bidang Ilmu Sistem Informasi dan Dosen Jurusan Informatika UII, menurutnya, kekhawatiran di kalangan mahasiswa terkait perkembangan AI dan peluang kerja bagi lulusan dinilai sangat wajar. Namun, dijelaskannya, perkembangan teknologi AI tidak sedang menghapus profesi, melainkan mengubah cara kerja profesi tersebut.
"Pekerjaan yang bersifat rutin, repetitif, dan mudah diprediksi memang semakin banyak diotomatisasi. Boilerplate code, dokumentasi sederhana, hingga kueri dasar kini dapat dikerjakan dalam hitungan detik oleh AI, namun kemampuan memahami kebutuhan pengguna, merancang arsitektur sistem, menimbang risiko, mengambil keputusan teknis, serta memastikan kualitas hasil tetap membutuhkan manusia," katanya, Senin, 23 Juni 2026.
Prof. Fathul menjelaskan, di tengah perkembangan teknologi AI, perusahaan dinilai tidak berhenti merekrut lulusan informatika. Bahkan, yang terjadi justru sebaliknya, yakni standar kompetensi dinaikkan.
Mereka yang hanya berada pada level “pengetik kode” akan menghadapi tantangan lebih besar. Sebaliknya, mereka yang mampu menjadi perancang solusi, pengarah teknologi, dan pengambil keputusan akan semakin dicari.
Di era AI, Lulusan Informatika Harus Naik Kelas.
Fondasi keilmuan menjadi kunci. Algoritma, struktur data, arsitektur sistem, logika komputasi, dan pemahaman data adalah bekal yang tidak lekang oleh perubahan teknologi.
Prof. Fathul menegaskan, bahwa mereka yang menguasai fondasi dapat mempelajari alat baru dalam hitungan hari, bukan tahun. Kemudian, AI berfungsi sebagai pengungkit produktivitas yang membuat pekerjaan selesai lima hingga sepuluh kali lebih cepat, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir.
"Pada saat yang sama, kualitas insani justru semakin bernilai. Empati terhadap pengguna, kreativitas dalam mendefinisikan masalah, pertimbangan etis, kemampuan komunikasi, serta kolaborasi lintas disiplin adalah keunggulan yang belum mampu ditiru mesin," ucapnya.
Lulusan informatika diungkapkan Prof. Fathul, juga perlu membangun portofolio nyata, memilih bidang spesialisasi yang jelas, serta membiasakan diri menjadi pembelajar sepanjang hayat. Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat, kemampuan belajar sering kali lebih penting daripada sekadar penguasaan satu alat tertentu.
"Kabar baiknya, peluang masih terbuka sangat lebar. Indonesia masih menghadapi kesenjangan adopsi teknologi di berbagai sektor. Dunia usaha, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hingga UMKM membutuhkan solusi digital yang relevan dengan konteks lokal. Di sinilah ruang kontribusi terbesar generasi informatika masa kini," ujarnya.
Prof. Fathuls dalam pesan sederhananya namun penting menekankan, jangan bersaing dengan AI dalam mengerjakan apa yang bisa diotomatisasi. Gunakan AI untuk memperkuat kemampuan, sebab masa depan bukan milik mereka yang menolak AI, melainkan mereka yang mampu mengarahkan dan memanfaatkannya.
"AI bukan akhir dari profesi informatika. AI adalah undangan untuk naik kelas," ujarnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....