UII Luluskan 30 Arsitek Wisudawan Pertama yang Menyandang Gelar Profesi P.AR

  • 19 Apr 2026 14:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Program Studi Profesi Arsitek (PPAr), Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Islam Indonesia (UII) kembali meluluskan 30 arsitek profesional pada Wisuda Pendidikan Profesi Arsitek Angkatan ke-17 Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Gedung Mohammad Natsir FTSP UII, Sabtu, 18 April 2026. Dari total lulusan tersebut, 21 orang berhasil meraih predikat Cum Laude, sementara lulusan lainnya memperoleh predikat Sangat Memuaskan.

Ketua Program Studi Profesi Arsitek UII, Dr. Ar. Yulianto Purwono Prihatmaji, S.T., M.T., IPM., IAI., dalam laporannya menyampaikan, lulusan tahun ini sangat istimewa, karena untuk pertama kali para lulusan menggunakan gelar profesi yang baru yakni P.ARs atau profesi arsitektur. Hal ini sesuai keputusan Direktur Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi nomor 96 tahun 2025 dan senyampang dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek.

Disamping itu, para lulusan pertama kalinya juga mendapatkan 5 dokumen atau persenjataan, yakni sertifikat pendidikan profesi arsitek yang ditandatangani oleh Rektor UII dan Ketua Umum IAI Nasional. Kedua adalah transkip nilai, ketiga adalah surat keterangan pendamping ijazah, keempat kartu anggota IAI.

"Yang kelima, ini yang terbaru adalah sertifikat kompetensi jenjang tujuh dengan kualifikasi asisten arsitek. Dan yang perlu kita syukuri adalah tahun ini, tahun 2026 bersama program studi arsitektur, program sarjana dalam pendidikan arsitektur 5 tahun PPAr UII mendapatkan akreditasi internasional secara penuh 6 tahun dari KAAB atau Korea Architectural Accreditation Board," katanya.

Dr. Yulianto menjelaskan, 30 mahasiswa PPAr telah tuntas menjalani proses pembelajaran selama 1 tahun, dengan menempuh 36 SKS dengan 9 mata kuliah wajib maupun mata kuliah pilihan. Mahasiswa berperan menjadi arsitek yang mengkoordinasikan proyek perancangan dengan kasus nyata, berbekal banyak teori juga kedalaman kajian-kajian.

"Mereka belajar arsitek leadership dengan beragam disiplin ilmu di mata kuliah Studio Arsitek Profesional Dua yang dilaksanakan bersama para tenaga tenaga ahli multidisiplin. Arsitek Leadership in Community, mereka juga belajar dan mendalami melalui mata kuliah studio arsitek profesional Satu dan advokasi desain yang dikerjakan bersama klien masyarakat dan komunitas, untuk proyek advokasi desain ini, PPAR Universitas Islam Indonesia berkolaborasi dengan pemerintah Kota Yogyakarta membantu menyediakan desain yang bertanggung jawab dan memediasi regulasi aspirasi dan anggaran di tujuh titik lokasi kampung Bantaran Sungai Yogyakarta," ucapnya.

Wisuda Pendidikan Profesi Arsitek Angkatan ke-17 diungkapkan Dr. Yulianto, secara istikamah dilaksanakan sejak PPAr UII berdiri tahun 2012 dan konsisten diselenggarakan setahun dua kali sejak 2022, dengan Yudisium dua kali tiap tahun sejak 2019. Selama empat tahun ini tingkat kelulusan tepat waktu PPAr mencapai seratus persen, dengan lulus semua tanpa perkecualian.

"Total lulusan PPAT UII sampai hari ini adalah 346 orang, dan perlu diketahui pemegang STRA sampai pagi ini 8.100, dengan begitu rasio dengan penduduk Indonesia hari ini 287 juta itu 1 banding 35 ribu penduduk. Kalau kita melihat rasio secara ideal di negara berkembang satu arsitek itu akan melayani 20 ribu orang. Artinya kita masih kekurangan separuh lebih dari jumlah arsitek yang ber-STRA pada pagi hari ini," ujarnya.

Rektor UII, Fathul Wahid memberikan pesan kepada para wisudawan yang terinspirasi dari tulisannya bersama kawannya yang menulis tentang Building Information Modeling (BIM). Yang menarik baginya, terkait kemerdekaan seorang arsitek dimulai kertas kosong.

Kemerdekaan ini diungkapkannya, tidak serta merta menjadi sebuah gagasan untuk seorang arsitek, tetapi ekosistem di dalamnya yang harus menjadi pertimbangan. Sehingga seorang arsitek tidak serta merta berada di rantai paling depan, kemudian mengabaikan semua yang di belakang.

"Bayangan saya arsitek juga memperluas makna pengguna yang selama ini cenderung hanya spesifik adalah klien. Jarang berpikir nanti kawan saya yang dikonstruksi bagaimana? Apakah desain yang saya buat nanti aman ketika konstruksi? Apakah nyaman ketika nanti dibangun? Ini tampaknya juga perlu menjadikan perhatian sehingga kemerdekaan itu harus dibarengi dalam bahasa saya adalah dengan empati," ujarnya.

Empati ditegaskan Fathul Wahid, harus terus dikedepankan dengan menyeimbangkan kemerdekaan sehingga inovasi-inovasi bisa berkembang dan muncul secara kuat dan terasa, tidak hanya untuk klien tetapi seluruh rantai konstruksi. Ia menilai jika kemerdekaan tanpa empati merupakan elitis rapuh, tetapi sebaliknya empati tanpa kemerdekaan juga stagnan, karena tidak ada inovasi.

Ketua Dewan Arsitek Indonesia, Ar. Ahmad Saladin, IAI menyampaikan, pekerjaan seperti arsitek selalu menyertai peradaban dan di Indonesia arsitek sudah dikenal sejak lama. Ikatan Arsitek Indonesia dibentuk tahun 59, bamun pekerjaan ini baru dikenal sebagai profesi 60 tahun kemudian di tahun 2017.

"Ini relatif baru profesi ini, dan juga tidak hadir di ruang kosong, kita masih punya rimba kebijakan, aturan-aturan yang perlu diurai, perlu disinkronkan. Ada banyak pihak yang terlibat, tidak hanya pihak-pihak di dalam ekosistem kita masyarakat arsitektur, tapi juga pihak-pihak yang terdampak dan memiliki kepentingan, sehingga masih banyak sekali yang harus kita benahi," ucapnya, menjelaskan.

Ahmad Saladin mengungkapkan, arsitek adalah profesi yang bukan sekadar previlage, tetapi janji yang harus ditepati dan mengabdikan diri dengan pengetahuan, wawasan dan keahlian dan juga mengabdi bertanggung jawab kepada masyarakat dan lingkungan. Terkadang, arsitek dalam tanggung jawabnya harus melampaui umurnya.

"Kontrak kerja kita hanya 6 bulan, hanya 3 bulan. Tapi bangunan, ide, gagasan, rancangan yang kita bangun berdiri 30 tahun, 60 tahun, 100 tahun mungkin lebih. Dengan cara pandang ini, dengan perspektif ini, 7 tahun itu bisa saja dan dapat saja terlihat terlalu singkat dan terlalu ringan," katanya, mengungkapkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....