Masyarakat Diminta Bijak Gunakan AI untuk Ambil Keputusan
- 08 Jun 2026 14:12 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Program Studi Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Informatika, Program Sarjana Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta kembali mengupas tantangan teknologi mutakhir lewat Webinar Informatika pada Sabtu, 6 Juni 2026. Kali ini, fokus bahasan menyoroti bagaimana manusia tetap berdaulat dalam mengambil keputusan saat hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Dosen Jurusan Informatika FTI UII, Kholid Haryono, S.T., M.Kom., mengatakan, manusia pada dasarnya setiap hari banyak mengambil keputusan, mulai dari hal kecil hingga keputusan penting. Namun, keputusan manusia tidak selalu rasional sepenuhnya.
"Webinar Informatikan program PJJ
Materi ini membahas bagaimana manusia mengambil keputusan ketika hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan di tengah situasi yang tidak menentu," katanya.
Kholid menyampaikan, di era kecerdasan buatan, tantangan pengambilan keputusan mengalami pergeseran. Dahulu, masalah utama adalah kelangkaan informasi sehingga manusia harus mencari dan mengumpulkan data sebanyak mungkin, tetapi saat ini, informasi justru melimpah sehingga tantangan utama adalah menyaring data yang relevan dan bermakna.
Merujuk pada konsep bounded rationality dari Herbert Simon, Kholid menjelaskan bahwa sejatinya manusia memutuskan dalam keterbatasan informasi, waktu, dan kapasitas berpikir. Karena itu, manusia sering tidak memilih opsi yang benar-benar optimal, melainkan opsi yang dianggap “cukup baik” atau satisficing.
"Dalam proses ini, manusia juga rentan terhadap bias berpikir, seperti anchoring bias, yaitu terlalu terpaku pada informasi awal, dan confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari informasi yang hanya mendukung keyakinan sebelumnya," katanya.
Kholid menyebutkan, AI hadir bukan hanya sebagai alat pencari informasi, tetapi juga sebagai sistem yang membantu merangkum, memahami, merekomendasikan, bahkan mengotomasi keputusan tertentu. Tiga peran utama AI dalam pengambilan keputusan adalah menyediakan informasi, memberikan rekomendasi berdasarkan pola data, dan mengotomasi keputusan rutin.
Kholid menegaskan, meski AI sangat membantu, tetapi penggunaannya tetap memiliki risiko, seperti over-reliance, yaitu terlalu percaya pada AI hingga berhenti berpikir kritis. Kedua, AI sering bekerja seperti black box, sehingga pengguna tidak selalu memahami alasan di balik jawaban atau rekomendasinya, dan ketiga AI dapat mewarisi bias dari data pelatihan sehingga keputusan yang dihasilkan juga dapat mengandung bias.
"AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti penilaian manusia, melainkan sebagai alat bantu yang harus tetap diverifikasi," ucapnya.
Kholid menjelaskan, dalam pengambilan keputusan manusia dapat menggunakan model proses rasional yang terdiri atas lima langkah, yaitu mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, menyusun alternatif, mengevaluasi dan memilih, serta meninjau hasil. Selain itu, terdapat berbagai teknik pendukung keputusan seperti decision matrix untuk pembobotan kriteria, decision tree untuk memetakan konsekuensi, metode kuantitatif seperti AHP, TOPSIS, dan SAW, serta Eisenhower Matrix untuk membedakan hal penting dan mendesak.
"AI dapat memperkuat proses ini melalui tangga analitik, mulai dari deskriptif untuk menjawab apa yang terjadi?, diagnostik untuk menjelaskan mengapa terjadi?, prediktif untuk memperkirakan apa yang akan terjadi?, hingga preskriptif untuk menyarankan apa yang sebaiknya dilakukan?," ujarnya.
Kolaborasi manusia dan AI menjadi kunci pengambilan keputusan yang lebih baik, dijelaskan Kholid, AI unggul dalam menemukan pola, memproses data dalam jumlah besar, dan bekerja cepat. Sebaliknya, manusia unggul dalam memahami konteks, mempertimbangkan nilai dan etika, serta menanggung tanggung jawab atas keputusan.
"Studi kasus mahasiswa PJJ menunjukkan bahwa di era AI, pilihan tidak selalu harus berbentuk 'atau', tetapi dapat menjadi 'dan'. Mahasiswa tidak harus selalu memilih antara kuliah, bekerja, atau mengambil peluang lain, dengan fleksibilitas PJJ dan bantuan AI, berbagai pilihan dapat dikombinasikan," katanya, menjelaskan.
Kholid mengungkapkan, AI mempercepat, memberdayakan, dan memperkaya proses pengambilan keputusan. Namun, tanggung jawab akhir tetap berada pada manusia.
Prinsip praktis yang perlu diterapkan adalah menggunakan AI untuk memperluas pilihan, menanyakan asal dan kualitas data, memverifikasi rekomendasi sebelum dieksekusi, serta tetap mengambil keputusan dengan pertimbangan nilai dan keberanian bertanggung jawab. Dengan demikian, AI sebaiknya berada di tangan manusia sebagai alat bantu, bukan di atas manusia sebagai pengganti keputusan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....