UPY Mendorong Hadirnya Kreativitas Pembelajaran Ilmu Sejarah

  • 09 Mei 2026 16:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Memeringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menggelar webinar bertajuk Pedagogi Kreatif dalam Pembelajaran Sejarah.

Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan peserta secara daring itu, tampil Kaprodi Pendidikan Sejarah UPY Muhammad Iqbal Birsyada sebagai pembicara kunci dengan narasumber Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Jawa Tengah Heni Purwono dan guru sejarah SMAN 1 Karanganyar Tri Endaryati.

Wakil Dekan FKIP UPY Darsono ketika membuka acara menyampaikan, kreativitas pembelajaran sangat diperlukan dalam pembelajaran sejarah saat ini. "Pembelajaran sejarah di kelas harus bermakna dan kontekstual sehingga tidak lagi dianggap membosan atau tidak relevan dengan kehidupan sehari hari," ujar Darsono, Sabtu, 9 Mei 2026.

Sementara itu, Kaprodi Pendidikan Sejarah UPY Muhammad Iqbal Birsyada mengungkapkan pembelajaran sejarah yang kreatif harus lebih banyak mengandalkan daya imajinatif guru.

"Kadang-kadang pengajaran sejarah di kelas perlu memakai luar nalar sehat. Atau bisa diartikan di luar pakem umumnya sehingga selalu ada hal hal yang baru di dalamnya," ujar doktor di bidang Pendidikan IPS itu.

Iqbal juga mengutip pendapat dari filosuf Plato bahwa guru perlu mengubah-ubah gaya mengajarnya supaya peserta didik lebih termotivasi untuk mengikuti materi sejarah.

"Terlebih apabila pelajar sejarah di sekolah diletakkan di jam-jam rawan, yakni jam terakhir," kata Iqbal, menandaskan.

Dalam materinya, Ketua AGSI Jawa Tengah Heni Purwono menekankan bahwa pembelajaran sejarah yang dianggap hanya hafalan dan membosankan adalah klaim jahat yang sesungguhnya mata pelajaran lain pun juga sama seperti itu. Namun ia meyakini, semua itu tergantung gurunya.

"Kalau guru sejarah mau melaksanakan praktik-praktik kreatif dalam pembelajaran, maka belajar sejarah menjadi menantang dan menyenangkan. Buat media yang bagus, ajak anak-anak banyak beraktivitas, kalau perlu di luar ruangan. Kita jangan segan-segan bereksperimen dalam pembelajaran. Yang penting anak-anak merasa suka dan nyaman dahulu dengan aktivitas pembelajaran," ujar Heni yang juga Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara.

Sementara itu, Tri Endaryati menyoroti pentingnya metode dan media ajar sejarah yang kontekstual sehingga peserta didik benar benar termotivasi.

"Misal kita mengajak murid ke Museum, mengumpulkan sumber sumber sejarah di sekitar mereka. Dengan demikian semua siswa akan akan aktif, dan tidak ada yang bengong. Siswa menikmati proses pembelajaran. Guru juga perlu membekali siswa ketrampilan Abad 21 yakni berpikir kritis, kolaborasi, kreatif dan komunikasi. Ini yang dibutuhkan bagi anak-anak ke depannya," kata mantan guru SMAN 8 Yogyakarta ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....