Mahasiswa S2 UNY Tawarkan Inovasi Pembelajaran Sejarah di Sekolah

  • 19 Feb 2026 22:37 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Meskipun Kurikulum Merdeka telah memberi ruang luas bagi pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis proyek, praktik pembelajaran sejarah di sekolah masih kerap didominasi metode ceramah dan hafalan. Pola ini dinilai belum optimal dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, maupun penghayatan nilai-nilai kebangsaan peserta didik.

Berangkat dari kondisi tersebut, Roro Wilis, mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menghadirkan gagasan melalui tesis magisternya. Ia meneliti penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Yogyakarta.

Penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran sejarah dapat dihidupkan secara lebih bermakna dengan mengaitkan materi pelajaran pada konteks nyata kehidupan peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus.

Pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi yang melibatkan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru sejarah, dan peserta didik dari kelas X hingga XII. Penelitian lapangan diawali dengan observasi awal untuk memetakan praktik pembelajaran sejarah yang telah berjalan.

“Pembelajaran sejarah seharusnya tidak berhenti pada hafalan peristiwa, tetapi membantu siswa memahami makna dan relevansinya dengan kehidupan mereka hari ini,” ujar alumni SMAN 1 Pacitan tersebut, Kamis, 19 Februari 2026.

Menurutnya, pendekatan CTL memungkinkan siswa membangun pengetahuan secara aktif melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, dan pemanfaatan konteks budaya lokal sebagai sumber belajar.

Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Yogyakarta telah merepresentasikan tujuh komponen utama CTL, di antaranya konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik. Ketujuh komponen tersebut terintegrasi dalam satu kerangka pembelajaran bermakna yang mendorong siswa aktif mengonstruksi pemahaman.

Praktik kontekstual seperti demonstrasi tradisi lokal, analisis arsip sejarah, kunjungan sumber belajar, hingga produksi film dan vlog sejarah menjadi medium bagi siswa untuk mengaitkan masa lalu dengan realitas masa kini. Secara teoretis penelitian ini berpijak pada konstruktivisme sosial yang menekankan pentingnya interaksi dan scaffolding dalam proses belajar.

Gadis kelahiran 14 Desember 2001 itu menegaskan bahwa guru bukan hanya sebagai pusat informasi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator dan mediator. Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah hambatan, terutama keterbatasan waktu pembelajaran dan kompleksitas pelaksanaan proyek berbasis lapangan.

"Strategi manajemen waktu dan prioritas proyek bermakna menjadi solusi yang diterapkan agar pembelajaran tetap selaras dengan prinsip CTL," kata Roro Wilis.

Lebih dari sekadar kajian akademik, tesis Roro Wilis ini berkontribusi pada pengembangan praktik pembelajaran sejarah yang kontekstual dan humanis. Hasil penelitian juga telah dipublikasikan dalam sejumlah artikel jurnal terakreditasi serta book chapter kolaboratif.

Tesis tersebut menjadi tonggak penting perjalanan akademik Roro Wilis. Karya ilmiah ini tidak hanya memperkaya khazanah pendidikan sejarah, tetapi juga mengantarkannya meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 pada Wisuda Universitas Negeri Yogyakarta periode Februari 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....