Peneliti UGM Kembangkan AI untuk Pertanian Cerdas

  • 05 Feb 2026 13:07 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi bagian dari revolusi teknologi yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Pemanfaatannya meluas, mulai dari sektor informasi dan komunikasi, industri, kesehatan, hingga pertanian.

Di Universitas Gadjah Mada (UGM), para peneliti terus mendorong penguatan riset AI agar mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat. UGM juga menghimpun berbagai potensi kolaborasi riset AI yang relevan untuk ditindaklanjuti melalui skema kerja sama dengan mitra industri.

Kerja sama strategis tersebut melibatkan sejumlah mitra industri besar, antara lain NVIDIA, Indosat Ooredoo Hutchison, dan Telkom Indonesia, dalam pengembangan inovasi berbasis AI.

Salah satu fokus riset AI UGM diarahkan pada pengembangan pertanian cerdas. Dosen Informatika Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Ir. Andri Prima Nugroho, menjelaskan bahwa teknologi AI dapat diterapkan dalam berbagai skema budidaya pertanian.

Pemanfaatannya mencakup penyusunan model pemupukan berbasis kearifan lokal, penyesuaian kebutuhan tanaman melalui sensor, hingga penciptaan lingkungan pertanian yang sepenuhnya terkontrol.

Menurut Andri, kebutuhan pupuk tanaman tidak bisa diseragamkan secara matematis, melainkan harus menyesuaikan karakter tanaman dan budaya lokal yang berkembang di masing-masing wilayah.

“Kebutuhan tanaman langsung bisa dideteksi menggunakan sensor dan kamera termal, digunakan untuk mendeteksi Crop Water Stress Index (CWSI). Hal ini bukan bertujuan untuk menghilangkan stres sepenuhnya, tetapi menjaga stres pada level terukur agar tanaman tetap produktif dan tumbuh kembangnya optimal,” ujar Andri dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 Februari 2026, terkait hasil diskusi pemetaan potensi riset AI di lingkungan UGM.

Ia menambahkan, teknologi AI juga sangat relevan untuk diterapkan pada pertanian dalam ruangan (indoor farming). Melalui pengaturan cahaya buatan, AI dapat meniru ritme alami matahari terbit dan terbenam.

“Supaya tanaman tidak ‘terkejut’,” kata dia lebih lanjut. 

Selain sektor pertanian, pemanfaatan AI juga dikembangkan untuk keamanan dan pemantauan bawah laut. Peneliti Eksplorasi Seismik FMIPA UGM, Dr. Wiwit Suryanto, mengungkapkan bahwa timnya memanfaatkan kabel fiber optik sebagai sensor cerdas untuk berbagai keperluan monitoring.

Menurut Wiwit, kabel fiber optik dapat difungsikan layaknya mikrofon atau sensor getaran yang bekerja sepanjang jalur kabel tersebut.

“Teknologi ini akan memungkinkan pengambilan data secara real-time dari infrastruktur yang sudah ada tanpa perlu memasang ribuan sensor baru, sehingga lebih efisien,” ujarnya.

Pemanfaatan tersebut mencakup mitigasi bencana tsunami dan gempa bumi, pendeteksian jenis kapal berdasarkan karakter getaran mesin, hingga pencegahan kerusakan kabel bawah laut akibat jangkar kapal melalui sistem peringatan dini.

“Saat kapal mendekat atau tersangkut, memantau pencurian ikan atau aktivitas ilegal di perbatasan bisa terdeteksi,” katanya.

Wiwit menambahkan, sistem ini bahkan mampu mengenali getaran ikan berukuran besar atau suara dari dalam lapisan tanah. Jangkauan deteksinya pun cukup luas, mencapai sekitar 100 meter dari jalur kabel. Riset tersebut didukung mitra dari Prancis dan saat ini tengah divalidasi menggunakan seismograf.

Menurutnya, AI berperan penting dalam mengolah data getaran yang sangat besar agar dapat dibedakan antara aktivitas gempa, pergerakan kapal, maupun keberadaan biota laut besar seperti paus.

“Kita bisa mendapatkan data real time dari apa yang ada di lautan Indonesia,” kata Wiwit.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....