Pencegahan Kasus Bunuh Diri di DIY Perlu Sinergi Lintas Sektor

  • 06 Okt 2026 13:16 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kasus bunuh diri masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang mendapat perhatian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terus mendorong penguatan upaya pencegahan, terutama melalui peningkatan layanan kesehatan jiwa dan kepedulian masyarakat terhadap kondisi psikologis orang-orang di lingkungan sekitar.

Pada Juni 2026, Dinas Kesehatan DIY menggelar pertemuan koordinasi lintas sektoral untuk memperkuat peran Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Pertemuan tersebut membahas tata laksana pelayanan kasus bunuh diri di DIY sekaligus mendorong peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa.

Perhatian terhadap persoalan tersebut juga terlihat di tingkat kabupaten. Di Kabupaten Gunungkidul, tercatat 26 kasus bunuh diri pada 2024 dan meningkat menjadi 28 kasus pada 2025. Sementara hingga 20 Juni 2026, tercatat 20 kasus. Data tersebut disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan berdasarkan data Dinas Kesehatan DIY.

Sejumlah faktor dinilai perlu menjadi perhatian dalam upaya penanganan kesehatan jiwa di Gunungkidul. Kemenko PMK menyebut persoalan keluarga dan pribadi, tekanan ekonomi, kerentanan kelompok lanjut usia, serta perubahan sosial budaya sebagai beberapa faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Penanganannya membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada aspek medis.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menghadapi persoalan kesehatan jiwa dan kasus bunuh diri. “Penanganan kasus bunuh diri membutuhkan sinergi lintas sektor, sehingga pelayanan dan upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi di masyarakat,” ujar Gregorius Anung dalam kegiatan koordinasi kesehatan jiwa di DIY.

Selain pencegahan, perhatian juga perlu diberikan kepada keluarga dan orang-orang yang mengalami kehilangan setelah kasus bunuh diri terjadi. Penelitian kolaboratif Fakultas Psikologi UGM dan University of Melbourne yang dipublikasikan pada 2026 menunjukkan bahwa proses pemulihan bagi penyintas kehilangan membutuhkan dukungan yang memadai dan proses pemulihan yang aktif. “Dukungan bagi keluarga dan penyintas kehilangan juga menjadi bagian penting dalam penanganan kesehatan jiwa secara menyeluruh,” ucapnya.

Karena itu, masyarakat diharapkan tidak mengabaikan perubahan perilaku seseorang yang terlihat mengalami tekanan berat. Komunikasi terbuka, dukungan dari lingkungan terdekat, serta akses kepada tenaga profesional dapat menjadi bagian penting dalam membantu seseorang menghadapi persoalan psikologis.

Upaya tersebut juga perlu dilakukan tanpa stigma, sehingga orang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental merasa aman untuk mencari pertolongan. Jika seseorang menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri atau mengakhiri hidup, orang terdekat perlu segera menghubungi tenaga profesional atau layanan kegawatdaruratan setempat dan tidak membiarkannya menghadapi situasi tersebut seorang diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....