KHFF 2026 Perluas Jejaring Film Berbasis Heritage
- 22 Sep 2026 11:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mencatat capaian positif dalam penyelenggaraan Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 yang memasuki tahun keempat. Festival film berbasis warisan budaya tersebut menjadi ruang bagi filmmaker dari berbagai daerah di Indonesia untuk menghadirkan karya yang mengangkat isu heritage, sejarah, dan kebudayaan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos., M.M., mengatakan penyelenggaraan KHFF 2026 menunjukkan perkembangan dari sisi persebaran peserta. Tahun ini, panitia memiliki pemetaan demografi peserta yang lebih baik sehingga dapat melihat jangkauan festival hingga berbagai wilayah di Indonesia.
“(Sebanyak) 184 submission yang masuk terbagi dari 21 provinsi dan dari lima wilayah besar. Submission terbanyak ada di Pulau Jawa, di antaranya Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat,” ujar Yetti saat memaparkan perkembangan KHFF 2026 kepada media di Hotel Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Sabtu, 19 September 2026.
Meski mayoritas peserta masih berasal dari Pulau Jawa, keterlibatan filmmaker dari luar Jawa menjadi catatan penting dalam penyelenggaraan tahun ini. Peserta tercatat berasal dari sejumlah wilayah, antara lain Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi. Persebaran tersebut dinilai menunjukkan semakin luasnya perhatian terhadap tema heritage dalam ekosistem perfilman nasional.
Sejak pertama kali digelar, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bersama pengelola festival terus membangun jejaring dengan komunitas filmmaker dan jaringan kebudayaan. Salah satu strategi yang dilakukan yakni mengoptimalkan jaringan Kota Pusaka untuk memperkenalkan KHFF kepada pelaku perfilman di berbagai daerah. “Memang dari tahun pertama kami selalu ada undangan-undangan ke seluruh jaringan filmmaker. Kemudian dari dimensi kebudayaan, kami juga mengerahkan jaringan dari jaringan Kota Pusaka,” jelas Yetti.
Menurut Yetti, keberlanjutan festival menjadi penting untuk menciptakan ruang apresiasi sekaligus mendorong produktivitas karya bertema warisan budaya. KHFF diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan film pendek maupun film panjang yang mengangkat kekayaan heritage di berbagai daerah. “Tujuan kami ingin membuat produktivitas film pendek atau film panjang yang bertema heritage ini ada terus di seluruh Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Direktur Festival KHFF 2026, Siska Raharja, mengatakan penyelenggaraan tahun keempat semakin menekankan kolaborasi lintas sektor. Sedikitnya terdapat lima mitra pemerintah yang terlibat, yakni Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dinas Perhubungan DIY, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, serta Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Yogyakarta.
“Ini adalah kerja bersama kolaborasi lintas sektor. Kami ada lima kolaborasi mitra pemerintah, kemudian ada satu korporasi,” ujar Siska. Selain pemerintah, KHFF 2026 juga menggandeng sektor korporasi dan perhotelan. Salah satu mitra korporasi yang terlibat adalah Mayora, sementara sektor perhotelan turut mendukung melalui fasilitas hospitality bagi filmmaker yang datang dari berbagai kota.
Dukungan terhadap festival, lanjut Siska, tidak selalu berbentuk anggaran. Kolaborasi dapat diwujudkan melalui penyediaan ruang, akomodasi, publikasi, promosi, hingga bentuk dukungan lain yang menunjang pelaksanaan festival. Di sisi internal, struktur kepanitiaan KHFF 2026 juga dibuat lebih ramping dengan melibatkan 20 tim festival dan 68 relawan, sementara proses rekrutmen mencatat lebih dari 700 submission calon relawan.
Pada tahun keempat ini, KHFF turut menghadirkan konsep penutupan yang berbeda melalui pertunjukan musik. Sawung Jabo dan Sirkus Barock dipilih untuk menjadi bagian dari rangkaian penutupan festival. Kehadiran keduanya sekaligus menjadi momentum perayaan perjalanan berkesenian, dengan Sawung Jabo memasuki usia ke-75 tahun dan Sirkus Barock memperingati 50 tahun perjalanan mereka. “Jadi memang tahun ini adalah perayaan bagi mereka sebagai legenda hidup yang kami hormati dan kami rayakan juga di dalam festival ini,” ujar Siska.
Direktur Program Heritage Film Festival 2026, Suluh Pamuji, menilai pelaksanaan KHFF tahun ini menunjukkan perkembangan positif. Meski evaluasi secara menyeluruh masih dilakukan setelah seluruh rangkaian acara selesai, pelaksanaan selama dua hari setengah telah memperlihatkan capaian yang melampaui target penyelenggaraan sebelumnya. “Harapannya ini jadi gambaran bagaimana dua hari setengah dari acara KFF sudah memiliki rangkuman yang sangat luar biasa, bahkan sudah beyond the target dari tahun sebelumnya,” kata Suluh.
Capaian KHFF 2026 memperkuat peran Kota Yogyakarta sebagai ruang pertemuan antara kebudayaan, warisan sejarah, komunitas kreatif, dan perfilman nasional. Bagi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, keberlanjutan festival menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem kebudayaan sekaligus menghadirkan perspektif baru dalam memahami heritage melalui medium film.
Dengan penguatan jejaring filmmaker, kolaborasi lintas sektor, serta perluasan partisipasi dari berbagai wilayah Indonesia, KHFF diharapkan terus berkembang sebagai ruang kreatif yang mendorong lahirnya karya-karya perfilman bertema warisan budaya. Festival ini juga menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan potensi kreatif daerah dengan jaringan kebudayaan yang lebih luas di tingkat nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....