KHFF 2026 Hidupkan Heritage lewat Sinema dan Kolaborasi

  • 10 Sep 2026 22:59 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Warisan budaya tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang berada di masa lalu. Gagasan tersebut menjadi salah satu semangat yang diusung Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026, yang kembali digelar di Yogyakarta pada 17–19 September 2026. Memasuki tahun keempat, festival ini berupaya mempertemukan warisan budaya dengan dinamika kehidupan masyarakat masa kini melalui medium film.

Diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, KHFF 2026 menghadirkan pendekatan berbeda dalam memperkenalkan konsep heritage kepada masyarakat. Film tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai medium untuk membaca kembali sejarah, identitas, tradisi, memori kolektif, hingga berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Beragam program disiapkan dalam penyelenggaraan tahun ini, mulai dari kompetisi film, pemutaran film nasional dan internasional, forum, workshop, talks, hingga aktivasi ruang publik. Seluruh rangkaian tersebut diperkenalkan dalam Taklimat Media KHFF 2026 yang berlangsung di The Praja Hotels and Villas, Yogyakarta, Kamis 10 September 2026.

Suasana Taklimat Media KHFF 2026 di Omah Manten, Kotabaru, Yogyakarta, Kamis 10 September 2026 saat para jurnalis dan pegiat film mengikuti pemaparan rangkaian festival. (Foto: RRI/HE)

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti S.Sos., M.M., mengatakan penyelenggaraan KHFF merupakan bagian dari upaya menghidupkan kawasan cagar budaya melalui aktivitas kebudayaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. “Kami ingin menghidupkan ruang di kawasan cagar budaya Kotabaru dengan aktivitas-aktivitas yang relevan sehingga bisa diakses oleh masyarakat,” ujar Yetti.

Menurut Yetti, film memiliki potensi besar menjadi jembatan antara warisan budaya dan generasi saat ini. Melalui medium audiovisual, nilai-nilai budaya yang terkadang sulit disampaikan secara abstrak dapat dikemas lebih dekat dan mudah diterima masyarakat. “Warisan budaya itu jangkauannya sangat luas. Tidak hanya bicara masa lalu, tetapi bagaimana konteks hari ini dan masa depan bisa masuk dalam program-program KHFF,” katanya.

Direktur Program KHFF, Suluh Pamuji, menjelaskan gagasan kuratorial festival terus berkembang sejak penyelenggaraan pertama. Pada tahun keempat, KHFF menempatkan kontekstualisasi heritage sebagai salah satu perhatian utama dengan melihat warisan budaya sebagai sesuatu yang terus berinteraksi dengan perubahan sosial, lingkungan, teknologi, sejarah, dan masyarakat. “Bagaimana kemudian benda dan tak benda itu hidup. Kami melihatnya sebagai living heritage atau heritage yang hidup,” ucap Suluh.

Para jurnalis dan pegiat film menyimak pemaparan program festival yang membawa semangat menghidupkan warisan budaya melalui film, kreativitas, dan kolaborasi. (Foto: RRI/HE)

Perhatian terhadap keberagaman perspektif tersebut juga tercermin dari tingginya partisipasi filmmaker. Direktur Festival KHFF, Siska Raharja, menyampaikan sebanyak 184 film submission masuk dalam KHFF 2026, menjadi jumlah terbesar selama empat tahun penyelenggaraan. Dari keseluruhan karya tersebut, sebanyak 15 film terpilih untuk mengikuti kompetisi yang terbagi dalam tiga kategori, yakni Mahaditya, Karyanakri, dan Perwasiswa, masing-masing terdiri atas lima film.

Selain kompetisi, KHFF 2026 menghadirkan Becak Drive-In Cinema dalam Opening Night pada 17 September 2026 di Pasar Terban. Sebanyak 38 becak listrik akan digunakan untuk membawa peserta menjelajahi kawasan Kotabaru melalui dua rute, yakni Rute Toleransi dan Rute Perjuangan. Peserta akan melewati sejumlah titik yang merepresentasikan keberagaman kehidupan keagamaan serta jejak sejarah perjuangan di kawasan tersebut sebelum kembali ke Pasar Terban untuk mengikuti pemutaran film dengan konsep drive-in.

KHFF 2026 juga memilih Para Perasuk (Levitating) karya Wregas Bhanuteja sebagai film pembuka. Film tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan gagasan festival karena menghadirkan tradisi dan identitas budaya dalam konteks persoalan masyarakat kontemporer. Wregas dijadwalkan hadir dalam program Director Talks untuk berbagi mengenai proses kreatif dan gagasan di balik karyanya, sekaligus membuka ruang dialog mengenai hubungan sinema dan kebudayaan.

Sementara itu, perhatian kepada generasi muda diperkuat melalui program KHFF EduScreen yang menyasar pelajar, mahasiswa, sekolah, kampus, dan komunitas. Program ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengikuti sejumlah agenda festival melalui pendaftaran rombongan yang didampingi guru, dosen, atau pengurus komunitas. Peserta juga mendapatkan e-sertifikat dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, snack kit, serta akses gratis ke sejumlah program pilihan.

Rangkaian KHFF 2026 kemudian ditutup pada 19 September melalui program Heritage in Indonesian Cinema dengan pemutaran film Kantata Takwa karya Eros Jarot dan Gotot Prakosa, dilanjutkan Closing Night bersama Sawung Jabo & Sirkus Barock. Pertemuan film, musik, sejarah, dan budaya tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali memori kolektif kepada generasi masa kini. Melalui rangkaian kegiatan di Pasar Terban dan Gedung PDIN, Terban, Yogyakarta, KHFF 2026 ingin menunjukkan bahwa heritage bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sesuatu yang dapat terus hidup, ditafsirkan, dan diwariskan melalui kreativitas serta kolaborasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....