Fashion On The Street Prawirotaman Ditutup dengan Semangat Batik Masa Depan

  • 24 Agt 2026 10:45 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, YOGYAKARTA - Fashion On The Street Prawirotaman 2026 resmi memasuki agenda penutupan pada Minggu, 23 Agustus 2026 di Dhipa Kinanti, Yogyakarta. Berbeda dari rangkaian sebelumnya, acara penutupan tahun ini memadukan diskusi batik, pertunjukan tari tradisi modern, serta aksi fashion di ruang publik.

Mengusung tema Contemporary Art, Batik Art, Evolution, acara ini menjadi ruang pertemuan antara fashion, batik, seni, teknologi, dan gagasan generasi muda. Penyelenggara berupaya menjadikan fashion sebagai medium untuk membicarakan keberlanjutan budaya dan perkembangan industri kreatif.

Penggagas Fashion On The Street Prawirotaman Lia Mustofa mengatakan kegiatan Fashion Industry Prawirotaman telah berjalan selama 11 tahun. Menurutnya, keberadaan kegiatan tersebut perlu terus dikembangkan agar geliat industri fashion tidak berhenti hanya pada acara singkat.

"Harapannya Fashion Industry ini memang lebih panjang. Bukan hanya sebatas dua hari, tapi lebih dari tiga hari bahkan," ujarnya.

Lia menilai kolaborasi dengan Festival Prawirotaman dapat memperluas dampak kegiatan tanpa menghilangkan karakter masing-masing program. "Kalau bergabung akan lebih besar. Selama semuanya tidak dibatasi, kami punya kelonggaran untuk menentukan sendiri konsep dan jadwal," katanya.

Salah satu agenda utama penutupan adalah diskusi bertajuk batik dan masa depan. Desainer dan seniman Tony Minanta menekankan batik tidak sebatas kain maupun motif, tetapi merupakan hasil budaya dan alat komunikasi masyarakat. Menurutnya, perjalanan batik dapat merepresentasikan perkembangan sebuah peradaban.

"Batik itu adalah hasil budaya. Batik adalah sebuah alat komunikasi dan salah satu simbol bagaimana sebuah peradaban," ucapnya.

Tony menilai perkembangan motif batik dapat mengikuti perubahan zaman selama proses yang menjadi identitas batik tetap dipertahankan. Generasi muda dapat mengambil peran memperkenalkan batik melalui bidang dan keahlian masing-masing.

"Batik itu sebuah energi. Akhirnya batik menggerakkan orang yang tadinya hanya punya sedikit ketertarikan menjadi ingin belajar dan memahami filosofinya," katanya.

Pandangan serupa disampaikan desainer muda Zahira Aya yang membagikan perjalanan kreatifnya membangun merek Ayalana. Berangkat dari latar belakang perfilman dan penyiaran, ia menekuni dunia fashion sejak 2019 dengan perhatian terhadap isu lingkungan dan penggunaan pewarna alam.

"Saya ingin hidup lama, ingin hidup sehat. Anak-anak muda juga ingin gaya hidup yang baik. Tetapi itu tidak bisa dilakukan sendirian, harus dibarengi perubahan, salah satunya lingkungan," ujarnya.

Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan pertunjukan tari tradisi modern dari Bala Madhika. Para peserta kemudian diajak bergerak menuju area publik, kolam renang, hingga rooftop untuk merayakan berakhirnya rangkaian kegiatan.

Bagi Lia, ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan menjadi salah satu inti acara. Ia sengaja menghadirkan anak muda sebagai pembicara utama. "Saya ingin mendengar mereka bicara apa. Bukan orang tua yang mendikte, tapi mereka yang bicara," katanya.

Lia menambahkan, teknologi seperti batik fraktal dan kecerdasan buatan dapat membuka peluang eksplorasi baru selama tidak menghilangkan esensi batik. "Kalau untuk masa depan, apakah batik masih relevan dipakai? Masih. Batik itu proses. Prosesnya harus dipertahankan, kalau motif boleh dengan berbagai cara," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....