Dobrak Sekat Seni, Band Jogja Marsmolys Hadirkan Pameran 'The Post-Naissance'

  • 02 Jun 2026 07:37 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Grup musik rock asal Yogyakarta, Marsmolys, melakukan sebuah gebrakan tidak biasa di kancah seni tanah air. Alih-alih sekadar menggelar konser musik, band yang beranggotakan Antino Restu Aji (Vokal/Gitar), Yoga Bhakti (Backing Vocal/Gitar/Synthesizer), Fahrenno (Drum), dan Ferdy Listanto (Bass) ini menginisiasi sebuah pameran seni rupa bertajuk "The Post-Naissance".

Pameran gotong royong yang berlangsung di Galeri RJ Katamsi ini meleburkan sekat antara ruang audio (musik) dan ruang visual (seni rupa) dengan melibatkan 17 seniman lintas disiplin yang dibuka secara resmi, Senin, 1 Juni 2026.

Gitaris/Synthesizer Marsmolys, Yoga Bhakti mengungkapkan, ide pameran ini muncul secara organik setelah mereka merilis album terbaru. Uniknya, dalam rilis album Marsmolys respons pendengar justru lebih banyak tertuju pada visual artwork album yang awalnya digambar secara manual dalam bentuk lukisan kolase sebelum didigitalisasi.

"Pas rilis, responsnya malah lebih banyak ke artwork-nya. Akhirnya dari situ kami ngobrol sama temen-temen, dan tercetuslah ide bikin pameran. Awal tahun kemarin kami mulai menggodok prosesnya, dan ternyata direspons sangat baik oleh teman-teman seniman lain," katanya.

Meski sempat mendapat selorohan dari pendengar seperti "Band kok bikin pameran? Band kan harusnya manggung," bahkan diungkapkan Yoga, banyak yang menyampaikan bahwa, menggabungkan musik dengan seni visual dan seni rupa rumit. Tetapi hal ini menjadi pendekatan Marsmolys dan dibuktikan bahwa kolaborasi interdisipliner yang sangat mungkin dilakukan, melalui pameran The Post-Naissance.

"Kalau dari Marsmolys, artwork-nya kami buat karena kebetulan vokalis kami juga seorang seniman. Jadi dia ingin membuat artwork yang bentuknya seperti kolase yang digambar sendiri dan berasal dari energi yang tertuang dalam lirik dan musik," katanya, menambahkan.

Karya seni yang ditampilkan pada pameran The Post-Naissance. (Foto: Dok/Marsmolys)

Vokalis, Antino Restu Aji mengungkapkan, ide hadirnya artwork terinspirasi dari konsep album Dangerous milik Michael Jackson dengan artwork dibuat Mark Ryden yang merekam kejadian nyata dan emosi natural selama proses produksi album. Menurutnya, artwork album Marsmolys juga mengimplementasikan ide-ide atau kejadian-kejadian yang dialami selama proses pembuatan album, hingga akhirnya tercipta artwork tersebut.

"Jadi ada mata yang sedang mengintimidasi atau melihat kita, seolah-olah kita diawasi oleh progres kami sendiri, ditambah berbagai hal yang berada di luar kendali kami, misalnya ada kejadian saat menuju studio rekaman, kami menabrak mobil, kejadian itu juga kami rekam dan masukkan ke dalam artwork ini. Kami tidak membuat-buat cerita," ucapnya.

Pameran The Post-Naissance yang dibuka secara resmi oleh Suwarno Wisetrotomo akan berlangsung hingga 13 Juni 2026. Kurator senior ini mengapresiasi hadirnya pameran ini yang disebutnya sebagai gerakan yang mencerminkan wajah seni masa kini, di mana batas-batas ekspresi dilebur demi menyuarakan kondisi zaman.

Suwarno menyoroti bagaimana musik dapat menjadi senjata kritik yang halus namun menembus jantung persoalan. Praktik hari ini menunjukkan bahwa seni berada dalam kubangan industri, politik, sosial, dan kehidupan massa, dalam politik tanpa harus menjadi partisan, musik menjadi medium yang sangat kuat untuk menyampaikan suara-suara kritis.

"Ketika melihat situasi hari ini, ketika kritik sering kali tidak mampu menembus tembok kekuasaan, ketika kekuasaan seolah tidak memiliki telinga, musik menjadi bahasa yang sangat tajam. Musik mampu langsung menembus jantung persoalan," ujarnya.

Menurut Suwarno, berbeda dengan seni visual, umat seni musik hidup dalam ruang terbuka yang memungkinkan aspirasi mereka terwakili melalui sebuah performance. Ia menilai, sangat penting ketika Marsmolys mengambil bagian dalam zamannya untuk menyampaikan kritik.

"Kritik tidak harus berdarah. Kritik tidak harus menghadirkan korban. Kritik bisa menembus jantung persoalan dengan lembut, tetapi tetap menggugat. Sering kali kesadaran dibangun melalui air mata yang tumpah, bukan darah yang tumpah. Jika Anda mampu menyentuh air mata yang tumpah itu, menurut saya Marsmolys memiliki kekuatan besar untuk masa depan," ujarnya, mengungkapkan.

Apresiasi juga disampaikan Nano Warsono, Direktur Galeri RJ Katamsi. Ia mengagumi keberanian Marsmolys dalam mencairkan batasan media seni, pameran ini sebagai sebuah "kerja kebudayaan" yang cair dan saling memengaruhi.

"Seni rupa tidak terlepas dari seni musik, demikian juga sebaliknya. Marsmolys menunjukkan bahwa seni rupa itu tidak padat, tetapi cair, begitu pula seni musik," ucapnya, mengungkapkan.

Sebagai informasi, Marsmolys adalah band psychedelic hard rock asal Yogyakarta, yang musiknya mencampurkan genre hard rock yang agresif, garage rock yang enerjik, psychedelic rock yang menghanyutkan, dan riff berat ala stoner rock. Marsmolys beranggotakan Antino Restu Aji (Vocal/Guitar), Yoga Bhakti (Backing Vocal/Guitar/Synthesizer), Ferdy Listant (Bass), serta Fahrenno (Drum), dan 10 Oktober 20225, Marsmolys resmi merilis full-length album keduanya berjudul “The Progeny of Holy Moly”.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....