Sarasehan Budaya dan Kethoprak Ongkek Sedot Perhatian Mahasiswa Jogja

  • 20 Jun 2026 18:29 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta- Semarak pelestarian budaya adiluhung berpadu apik dengan geliat ekonomi kreatif dalam acara Sarasehan Budaya dan Pagelaran Kethoprak Ongkek yang digelar pada Jumat 19 Juni 2026 malam dan juga Live Youtube RRI Jogja Official. Bertempat di Kuliner Jogja Barat, Jl. Ringroad Gamping, Ambarketawang, Sleman, acara bertajuk "Merawat Tradisi untuk Mencintai Negeri" ini sukses menyedot perhatian ratusan penonton, yang didominasi oleh kalangan generasi muda dan mahasiswa.

Suasana sarasehan semakin hidup dan penuh tawa berkat duet pemandu acara, Titik R dan Dalijo Angkring, sebelum akhirnya dilanjutkan dengan pementasan inti yaitu Pertunjukan Kethoprak Ongkek. Seniman senior Yogyakarta, Marwoto, hadir untuk mengupas tuntas asal-muasal serta perjalanan sejarah Kethoprak Ongkek., Marwoto menjelaskan bahwa pada masa lampau, Kethoprak Ongkek tidak sekadar berfungsi sebagai tontonan. "Kethoprak Ongkek itu dulu merupakan sarana vital untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Selain sebagai hiburan, ia juga menjadi wadah edukasi untuk menyosialisasikan pesan-pesan khusus dari pemerintah," ujar Marwoto.

Adegan marwoto dan Yati Pesek dalam Pertunjukan Kethoprak Ongkek dengan lakon "Bremana Kembar". (Foto:RRI/Titik)

Sarasehan ini menghadirkan tiga narasumber lintas disiplin ilmu yang membedah eksistensi kesenian tradisi dari berbagai sudut pandang. Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, M.Si. (Dosen Magister Media dan Komunikasi UMY), Beliau menyoroti pentingnya efektivitas komunikasi dalam seni pertunjukan. Menurutnya, sebagai media hiburan, kethoprak harus tetap memperhatikan kenyamanan audiens agar tidak menimbulkan salah paham. Interaksi antara pemain dan penonton harus bersifat komunikatif dan responsif demi menjaga esensi pesan yang ingin disampaikan.

Tazbir Abdullah (Dosen SV Pariwisata) Dari kacamata pariwisata, Tazbir menekankan bahwa tantangan terbesar seni tradisi adalah kemasan. Kesenian lokal harus dikemas secara apik, dinamis, dan menarik agar mampu menjadi daya tarik wisata (magnet) yang kuat bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

R.Ngt. Adhyas Woro (Pimpinan Woro Moro Entertainment) Sebagai penyelenggara acara, bunda Woro menegaskan komitmennya untuk terus melestarikan budaya dan tradisi yang hidup di masyarakat. Melalui ruang publik seperti Kuliner Jogja Barat, ia berharap seni budaya dan sektor ekonomi bisa tumbuh bersama.

Lebih lanjut, R.Ngt. Adhyas Woro menganalogikan hubungan antara seni tradisi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bak mata pisau yang saling melengkapi. Keduanya harus berjalan seiring dan sejalan.Dengan adanya pementasan berkala seperti ini, para pelaku UMKM mendapatkan ruang dan kesempatan langsung untuk berjualan dan meningkatkan pendapatan mereka dari para pengunjung yang datang.

Acara yang berlangsung dari pukul 20.00 WIB hingga selesai ini dipadati oleh penonton dari kalangan civitas akademika. Terlihat ratusan mahasiswa dari berbagai kampus besar di Jogja turut memadati lokasi, di antaranya dari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)serta komunitas UMKM dan juga masyarakat sekitar Gamping Kidul.

Melalui kombinasi sarasehan dan pertunjukan langsung Kethoprak Ongkek ini dengan Lakon Bermono Kembar dengan Para Pemain Yati Pesek, Marwoto, Wawin, Rika, Rio Srundeng, Aldo Iwak Kebo, dan juga pemain Kethoprak ongkek lainnya, warga masyarakat serta para mahasiswa yang hadir mengaku tidak hanya membawa pulang hiburan, tetapi juga wawasan baru mengenai eksistensi dan sejarah panjang Kethoprak Ongkek di tanah Jawa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....