Sukses Gelar Wayang Orang, Yati Pesek Menjaga Kelestarian Budaya

  • 09 Feb 2026 09:44 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta- Gelaran Wayang Panggung yang menyuguhkan pertunjukan Wayang Orang dari Padepokan Yati Pesek  di Taman Budaya Embung Giwangan, Sabtu, 7 Februari 2026 berhasil menyihir ratusan pasang mata yang memadati area pertunjukan semalam. Mengangkat cerita Wisanggeni Anak Berbakat Istimewa. Meski durasi pertunjukan cukup panjang, antusiasme penonton seolah tak pudar; tak ada satu pun yang beranjak hingga layar ditutup.

Menurut Yati Pesek untuk mempersiapkan pementasan butuh waktu sekitar satu bulan. Yati pesek bersama teman-teman menyiapkan segala sesuatunya agar terwujud pementasan wayang orang sebaik mungkin.

Ia menambahkan, perencanaan digelarnya wayang orang juga berawal dari tidak sengaja ketemu dengan wisatawan yang menanyakan apakah di Yogyakarta itu ada pertunjukan wayang orang seperti di Surakarta, Jawa Tengah.

”Ini yang membuat saya malu, di Jogja memang banyak pertunjukan kesenian. Namun yang berkaitan dengan wayang orang hampir-hampir tidak ada. Di sinilah saya terpanggil untuk melakukan pementasan wayang orang, wayang panggung dari berbagai generasi,” ujar Yati Pesek.

Pertunjukan ini bukan sekadar pementasan biasa, melainkan sebuah simfoni budaya yang mempertemukan para seniman dari Yogyakarta, Klaten, dan Solo. Kolaborasi apik ini melibatkan tiga generasi pemain mulai dari seniman senior yang legendaris hingga talenta muda yang energik membuktikan bahwa nafas wayang orang masih sangat kuat.

Visual panggung terlihat sangat istimewa. Kemegahan tersebut didukung penuh oleh kostum wayang autentik koleksi pribadi Yati Pesek, yang memang dikenal sangat detail dan terjaga kualitasnya.

Kehadiran sang maestro seni tradisional Jawa, Yati Pesek, di atas panggung menjadi magnet tersendiri. Berperan sebagai Emban, ia tampil bersahaja akan tetapi tetap mampu tampil jenaka. Suasana semakin pecah saat para Punakawan muncul, terutama dengan aksi Dalijo Angkring yang memerankan tokoh Bagong.

Dalijo Angkring mengatakan, dialog atau repertoar yang dilontarkan tak hanya mengandalkan banyolan fisik, tetapi juga dibumbui dengan, humor segar dengan spontanitas khas panggung rakyat yang mengocok perut.

”Selain itu juga tentang isu terkini, sentilan halus mengenai fenomena sosial saat ini yang dikemas secara cerdas sehingga pesan moral tersampaikan tanpa terkesan menggurui," kata Dalijo.

Lakon yang diangkat malam itu adalah "Wisanggeni", mengisahkan tentang putra Arjuna yang memiliki bakat dan kesaktian luar biasa sejak lahir. Pemilihan lakon ini seolah menjadi cerminan bahwa bakat istimewa jika dipadukan dengan bimbingan yang tepat (seperti kolaborasi lintas generasi ini) akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat.

Pertunjukan ditutup dengan gemuruh tepuk tangan. Keberhasilan ini membuktikan bahwa Wayang Orang tetap relevan sebagai hiburan segar yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat.

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....