ROTFEST 2026 Hidupkan Budaya lewat Kolaborasi

  • 24 Agt 2026 14:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Jalan Rotowijayan, Yogyakarta, kembali menjadi ruang pertemuan budaya, kreativitas, dan masyarakat melalui Rotowijayan Festival (ROTFEST) ke-5, Minggu 23 Agustus 2026. Mengusung konsep Fashion on The Street Culture, Community, Creativity & Collaboration, festival tahunan tersebut menghadirkan beragam pertunjukan seni, fashion, UMKM, serta aktivitas kreatif yang melibatkan masyarakat lintas generasi.

ROTFEST berawal dari inisiatif ibu-ibu Dasawisma Kayumanis-20 Rotowijayan yang ingin menghadirkan kegiatan berbeda dalam perayaan Agustusan. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi agenda tahunan setiap Agustus dan menjadi salah satu bentuk nyata semangat warga dalam menjaga, menghidupkan, sekaligus mengembangkan warisan budaya agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Pada penyelenggaraan tahun ini, pendanaan ROTFEST mendapat dukungan penuh dari Kelurahan Kadipaten, Yogyakarta.

Mantri Kemantren Kraton Yogyakarta dan bapak Lurah Kelurahan Kadipaten serta Pinituwa Tuwanggono membuka acara ROTOWIJAYAN FESTIVAL Minggu 23 Agustus 2026 di sepanjang jalan Rotowijayan. (Foto: Dok. Rotowijayan Festival (ROTFEST))

Mengangkat tema “Pangreksaning Kabudayan, Kuncaraning Praja” dengan subtema “Wastra dalam Keseharian”, ROTFEST 2026 tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni. Festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan tradisi, kreativitas, komunitas, dunia pendidikan, pelaku UMKM, seniman, desainer, dan masyarakat dalam satu perhelatan budaya.

Salah satu kekuatan utama ROTFEST tahun ini adalah kolaborasi empat wilayah, yakni Kadipaten Wetan, Kadipaten Kidul, Kadipaten Kulon, dan Ngasem. Keempat wilayah tersebut bersatu melalui pergelaran Fashion Show Wastra Nusantara yang menampilkan keberagaman kain dan busana tradisional dalam berbagai aktivitas kehidupan. Konsep tersebut sekaligus menegaskan pesan bahwa wastra tidak hanya layak dikenakan dalam kegiatan adat atau seremoni, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Mantri Pamong Praja Kemantren Kraton, .Drs. Sumargandi, M.Si (tengah) menyerahkan hadiah kepada Pemenang Lomba Fashion Show antar wilayah di Kelurahan Kadipaten Kraton. (Foto: Dok. Rotowijayan Festival (ROTFEST))

Fashion show tersebut mengangkat empat konsep, yakni profesi berwastra, piknik berwastra, sehari-hari berwastra, serta acara resmi atau kondangan berwastra. Masing-masing wilayah menampilkan karakter dan kreativitas melalui busana yang memadukan kekayaan tradisi dengan gaya modern, kasual, dan elegan. Motif klasik, warna, serta detail wastra dikemas dalam siluet yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Untuk memberikan perspektif profesional terhadap karya yang ditampilkan, ROTFEST menghadirkan Viantary Modeling School serta dua desainer Yogyakarta, Ani Seto dan Sae Sae Batik Ecofashion, sebagai juri fashion show. Kehadiran para profesional tersebut memperkuat pesan bahwa pergelaran Fashion on The Street ROTFEST bukan semata-mata menampilkan busana, tetapi juga membawa cerita tentang tradisi yang terus hidup, berkembang, dan bertransformasi mengikuti perubahan zaman.

Turis dari Jerman turut partisipasi dalam ROTFEST memperagakan koleksi Luwes Putera. (Foto: Dok. Rotowijayan Festival (ROTFEST))

Pinituwa Tuwanggana Kelurahan Kadipaten menyebut ROTFEST sebagai bagian dari inovasi masyarakat dalam mengembangkan potensi wilayah melalui pendekatan pariwisata berbasis komunitas. Menurutnya, ROTFEST menjadi salah satu agenda unggulan dari inovasi WIS KAWENTAR yang memadukan seni, budaya, ekonomi kreatif, tradisi, dan hiburan. “ROTFEST sebagai ajang Fashion on The Street merupakan event unggulan dari inovasi WIS KAWENTAR yang memiliki daya tarik karena memadukan tontonan dan hiburan sekaligus mengapresiasi seni budaya serta ciri khas potensi Kadipaten,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberlanjutan ROTFEST setiap tahun menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan budaya yang tumbuh dari komunitas. Dukungan dan keterlibatan warga dinilai menjadi modal penting agar festival tersebut dapat terus berkembang sekaligus memberikan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi bagi lingkungan sekitar.

Fashion on the Street dalam ROTFEST dari koleksi Luwes Putera by Iin Hapsoro. (Foto: Dok. Rotowijayan Festival (ROTFEST))

Selain fashion show, ROTFEST 2026 juga menghadirkan Karaoke on The Street yang terbuka bagi masyarakat umum. Ruang tersebut memberikan kesempatan kepada warga dan pengunjung untuk berinteraksi, berekspresi, serta menikmati suasana festival secara lebih dekat dan informal. Dari sisi ekonomi kreatif, festival turut menghadirkan Bazaar UMKM di Kelurahan Kadipaten sebagai upaya memperkenalkan sekaligus mengembangkan kuliner tradisional menjadi potensi UMKM berbasis komunitas.

Kolaborasi lintas generasi juga terlihat melalui keterlibatan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Kehadiran mahasiswa menjadi jembatan antara generasi muda dengan budaya lokal. Mantri Pamong Praja Kemantren Kraton, Drs. Sumargandi, M.Si., mengapresiasi penyelenggaraan ROTFEST yang dinilainya mampu mengangkat berbagai komponen masyarakat, mulai dari budaya, pariwisata, hingga UMKM di sepanjang Rotowijayan dan sekitarnya. “Secara sosial, ROTFEST juga membangun gotong royong dan kekompakan empat kampung di Kelurahan Kadipaten. Keterlibatan masyarakat juga sangat luas, dari anak-anak hingga orang tua, laki-laki dan perempuan, bahkan wisatawan asing,” ucapnya.

Turis dari Jerman ikut fashion show on the street dalam gelaran ROTFEST - ROTOWIJAYAN FESTIVAL. (Foto: Dok. Rotowijayan Festival (ROTFEST))

Rangkaian ROTFEST 2026 diawali dengan Tari dari Kampung Menari, Tari Krida Lelana, penampilan maskot ROTFEST “Den Roto”, serta Gladen Perang Prajurit Bregada. Acara kemudian dilanjutkan fashion show kolaborasi empat wilayah, penampilan seni, Paduan Suara Mahasiswa UAJY. Seluruh rangkaian ditutup dengan flashmob semangat Sumbu Filosofi Yogyakarta.

Foto model membawakan koleksi LUWES PUTERA by Iin hapsoro , desainer dan UMKM dari kawasan Rotowijayan. (Foto: Dok. Rotowijayan Festival (ROTFEST))

Melalui ROTFEST, masyarakat Rotowijayan menunjukkan bahwa kampung tidak hanya menjadi kawasan tempat tinggal, tetapi juga dapat tumbuh sebagai ruang hidup budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Kolaborasi empat wilayah menjadi fondasi untuk memperluas jejaring dengan komunitas, institusi pendidikan, UMKM, seniman, desainer, dan berbagai elemen masyarakat. Semangat tersebut dirangkum dalam pesan utama ROTFEST: empat wilayah, satu semangat, satu ruang budaya dari Rotowijayan, budaya bergerak, tumbuh, dan menggema melalui harmoni serta kolaborasi karya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....