Perajin Mebel Yogyakarta Bertahan Demi Kebutuhan Warga Berpenghasilan Terbatas

  • 08 Mei 2026 15:19 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Usaha mebel sederhana di kawasan Jalan Kaliurang KM 12, Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Yogyakarta, masih terus bertahan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil pasca pandemi Covid-19. Usaha tersebut menyasar berbagai kalangan, terutama mahasiswa dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah, dengan menyediakan kebutuhan perabot rumah tangga.

Berbagai produk seperti meja belajar anak, meja dapur, hingga meja tamu tetap diproduksi dengan mempertahankan kualitas, meskipun disesuaikan agar lebih terjangkau.

Diungkapkan pemilik usaha mebel UD. Maju Lancar, Tauhid, bahwa keberlangsungan usaha ini diharapkan tetap dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan perabot sesuai kemampuan masing-masing.

“Yang penting masyarakat ekonomi menengah ke bawah masih bisa membeli sesuai kebutuhannya,” ujarnya saat ditemui Jumat, 8 Mei 2026.

Kursi dan furnitur kayu hasil karya usaha mebel rumahan milik Tauhid tetap diminati masyarakat karena mengutamakan kualitas dengan harga terjangkau. (Foto: RRI/HE)

Menurutnya, tantangan terbesar dalam usaha mebel saat ini adalah kenaikan harga bahan baku kayu. Meski demikian, ia mengaku tidak terlalu mempersoalkan persaingan usaha karena setiap pelaku usaha memiliki rezeki masing-masing. “Saingan itu tidak masalah, semua punya rezeki sendiri-sendiri,” katanya.

Tauhid menjelaskan, bahan yang paling sering digunakan dalam produksi adalah kayu mahoni. Namun, ia juga melayani pesanan menggunakan kayu jati sesuai permintaan pelanggan. Selain itu, usaha miliknya juga menerima desain custom agar konsumen bisa menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan kemampuan biaya.

Beragam furnitur karya usaha mebel rumahan milik Tauhid tetap diminati masyarakat karena menawarkan kualitas dan harga yang ramah di kantong. (Foto: RRI/HE)

Produk yang paling diminati pelanggan saat ini adalah meja fleksibel dan meja kompor untuk kebutuhan rumah tangga. Ia menyebut mayoritas konsumennya berasal dari kalangan keluarga sederhana yang membutuhkan perabot praktis dengan harga ekonomis. “Kalau pelanggan datang dan saya bisa kasih solusi sesuai kebutuhan mereka, pasti saya bantu,” ucapnya.

Usaha yang dijalankan di tempat sewa berukuran 3x15 meter dengan biaya Rp1 juta per bulan itu menjadi pilihan hidup Tauhid sebagai seorang single parent. Selama lebih dari 10 tahun, usaha mebel tersebut menjadi penopang utama untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. “Saya tidak punya pilihan lain selain bertahan dari usaha ini,” ujarnya.

Ke depan, Tauhid berharap usahanya bisa berkembang lebih baik dan memiliki tempat usaha sendiri yang lebih layak. Ia juga berpesan kepada anak muda yang ingin terjun ke bisnis mebel agar mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan teknologi. Menurutnya, peluang usaha terbuka luas di berbagai bidang asalkan ditekuni dengan sungguh-sungguh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....