Galeri Ecoprint Yogyakarta Siap Bidik Pasar Dunia
- 08 Mei 2026 05:54 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Asosiasi Ecoprint Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (AEPI DIY) resmi membuka galeri Ecoprint sebagai wadah promosi dan pemasaran produk ramah lingkungan hasil karya para perajin lokal. Grand opening galeri tersebut menjadi langkah baru bagi pelaku industri kreatif Ecoprint di Yogyakarta untuk memperluas pasar hingga tingkat internasional.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (PerinkopUKM) Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo mengatakan Ecoprint menjadi salah satu identitas baru industri kreatif Yogyakarta yang mengedepankan konsep ramah lingkungan. Menurutnya, produk Ecoprint memanfaatkan kekayaan alam Indonesia, khususnya tumbuh-tumbuhan lokal sebagai bahan utama pewarna dan motif alami. “Ini benar-benar ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan sintetis. Semua memanfaatkan potensi kekayaan alami Indonesia,” ujarnya saat ditemui Kamis, 7 Mei 2026. Ia menilai Ecoprint memiliki karakter khas yang berbeda dengan produk tekstil konvensional karena mengedepankan nilai seni dan proses kreatif berbasis alam.
Tri Karyadi menambahkan, tantangan terbesar pengembangan Ecoprint saat ini adalah menjaga kualitas agar tidak sekadar menjadi tren sesaat. Ia menilai produk-produk yang dipamerkan dalam galeri tersebut sudah memiliki standar premium dan melalui proses riset yang matang sebelum dipasarkan kepada konsumen. “Produk-produk ini tidak dibuat sekadar ikut-ikutan. Saya lihat melalui riset berkali-kali sehingga yang ditampilkan memang berkualitas dan menyasar segmen menengah ke atas,” katanya.
Pemerintah Kota Yogyakarta, lanjutnya, juga terus mendorong penggunaan produk UMKM lokal melalui program “Bela Beli Produk Masyarakat Yogyakarta”. Salah satu bentuk dukungan tersebut dilakukan dengan mengimbau tamu luar daerah yang datang ke Yogyakarta agar membeli produk-produk UMKM, termasuk ekoprint, sebagai buah tangan khas daerah.

Selain menjual produk, galeri Ecoprint juga akan menghadirkan pengalaman langsung bagi pengunjung melalui workshop dan edukasi mengenai filosofi hingga proses pembuatan ekoprint. Menurut Tri Karyadi, pengalaman semacam itu menjadi nilai tambah yang kini dicari wisatawan maupun konsumen modern.
Ketua AEPI DIY, Vipia Yanuachandra menjelaskan komunitas tersebut lahir dari rasa penasaran para perajin terhadap hasil motif alami ekoprint. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi kecintaan terhadap produk berbasis lingkungan hingga akhirnya membentuk organisasi dan galeri bersama. “Awalnya kami hanya penasaran dengan hasil ekoprint. Lama-kelamaan kami merasa senang dan mencintai produk ini, sehingga muncul mimpi untuk memiliki galeri bersama,” ucapnya. Saat ini, galeri tersebut telah diisi oleh sekitar 15 perajin dengan berbagai produk seperti kain, tas, dompet, topi, keramik, hingga media kulit dan kertas.
Vipia menuturkan AEPI DIY berdiri sejak 2020 dan kini terus berkembang dengan mengedepankan pengalaman serta kreativitas para anggota. Ia berharap industri Ecoprint semakin dikenal masyarakat luas dan mampu menarik minat generasi muda untuk ikut mencintai produk lokal berbasis lingkungan.
Sementara itu, pemilik galeri, Belly Angling Contessa Murni Susilowati yang akrab dipanggil Cik Belly mengatakan Ecoprint dipilih karena memiliki nilai artistik tinggi sekaligus ramah lingkungan. Menurutnya, motif abstrak alami yang dihasilkan membuat setiap produk memiliki karakter unik dan berbeda satu sama lain. Ia optimistis produk Ecoprint Yogyakarta mampu menembus pasar internasional karena memiliki keunikan dan kualitas yang tidak dimiliki produk tekstil biasa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....