Warung Pak TM Jadi Andalan Kuliner Mahasiswa Malam

  • 11 Feb 2026 19:57 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Di tengah ramainya aktivitas mahasiswa dan warga sekitar di Rejosari Ngalangan Sleman, Rabu 11 Februari 2026, warung nasi goreng milik Marmo tetap bertahan sebagai salah satu pilihan kuliner malam. Pria yang akrab disapa Pak Marmo ini telah menjalankan usahanya sejak 1997, membuktikan konsistensinya dalam menjaga cita rasa dan pelayanan kepada pelanggan. Warung yang kini dikenal sebagai Pak Topi Merah (TM) tersebut menjadi saksi perjalanan panjang usahanya dari berkeliling hingga menetap di satu lokasi.

Marmo mengatakan, ia memulai usaha dengan berjualan keliling selama dua tahun sebelum akhirnya menetap di Jalan Gambir. Setelah berjualan menetap selama 17 tahun di lokasi tersebut, ia kemudian memutuskan pindah ke tempat yang sekarang pada 2024. “Saya mulai usaha dari tahun 1997, awalnya keliling dua tahun, setelah itu baru menetap di Jalan Gambir, kemudian pindah ke sini tahun 2024,” ujarnya.

Warungnya menyediakan beragam menu, mulai dari mi goreng, mi rebus, kwetiau goreng, kwetiau rebus, bihun goreng, bihun rebus, hingga nasi goreng bakso. Harga yang ditawarkan pun terjangkau, yakni mulai dari Rp15.000 hingga Rp20.000 per porsi. Dengan pilihan menu yang beragam dan harga ramah di kantong, warung ini menjadi favorit berbagai kalangan, khususnya mahasiswa.

Dalam kesehariannya, Marmo membuka warung sejak pukul 17.30 hingga pukul 00.00 WIB. Ia mengaku tidak memiliki jadwal libur tetap dan hanya beristirahat jika merasa lelah atau memiliki keperluan mendesak. “Saya buka dari setengah enam sore sampai jam 12 malam, libur kalau capek atau ada keperluan saja,” katanya.

Warung Pak TM tak hanya menghadirkan cita rasa khas, tetapi juga menjadi tempat berkumpul favorit mahasiswa. (Foto: RRI/HE)

Untuk menjaga kualitas masakan, Marmo memilih berbelanja bahan sendiri ke pasar daripada mengandalkan distributor. Ia percaya cara tersebut dapat memastikan kesegaran bahan baku. Selain itu, ia juga memiliki ciri khas dalam mengolah masakannya, yaitu menggunakan kecap ikan, kecap asin, dan bawang yang digeprek sebagai bumbu utama.

Menurut Marmo, keunikan lainnya adalah fleksibilitas dalam memenuhi permintaan pelanggan, termasuk penggunaan minyak dan penyedap rasa. Ia bahkan bisa menyesuaikan masakan tanpa minyak atau tanpa penyedap sesuai permintaan. “Kalau micin tergantung pembeli, mau pakai bisa, tidak pakai juga bisa. Bahkan tidak pakai minyak juga bisa kalau direbus,” ucapnya.

Kini, setelah puluhan tahun berjualan, Marmo mengaku bersyukur usahanya semakin dikenal, terutama di kalangan mahasiswa. Ia menilai berjualan di tempat tetap memberikan hasil lebih baik dibandingkan berkeliling. Dengan pengalaman panjang dan cita rasa khas, warung nasi goreng Pak TM terus menjadi pilihan kuliner sederhana yang bertahan di tengah persaingan usaha makanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....